WAHANANEWS.CO, Jakarta - MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif langkah PT Bukit Asam Tbk atau PTBA yang mengajukan Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus sebagai bagian dari penguatan hilirisasi batu bara nasional.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan, “Pengajuan BACBIE menjadi KEK merupakan langkah strategis karena hilirisasi membutuhkan kawasan industri yang kompetitif, terintegrasi, dan mampu menarik investasi besar.”
Baca Juga:
Investasi KEK Tembus Rp32 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kepercayaan Investor Harus Berbuah Lapangan Kerja
Menurut Tohom, status KEK dapat memberikan daya tarik tambahan bagi investor melalui fasilitas fiskal, kemudahan perizinan, serta dukungan infrastruktur yang lebih terarah.
Ia melihat kebutuhan tersebut semakin penting karena BACBIE diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter atau DME.
“Kalau proyek DME ingin benar-benar masuk skala industri, ekosistem investasinya harus disiapkan sejak awal agar biaya proyek lebih kompetitif dan investor memiliki kepastian,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga:
Investasi Rp5,7 Triliun di KEK Industropolis Siap Serap Tenaga Kerja, MARTABAT Prabowo-Gibran: Batang Bisa Jadi Etalase Hilirisasi
PTBA saat ini mengajukan perubahan status BACBIE dari kawasan industri menjadi KEK untuk mendukung kegiatan hilirisasi batu bara.
Perseroan juga berharap fasilitas seperti tax holiday dapat membantu meningkatkan keekonomian proyek, terutama karena sebagian kebutuhan teknologi dan barang modal masih berpotensi berasal dari luar negeri.
Tohom menilai insentif pemerintah harus diarahkan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang sebesar-besarnya di dalam negeri.
Menurutnya, setiap fasilitas yang diberikan negara perlu diikuti target investasi, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan keterlibatan industri nasional.
“Insentif jangan hanya membuat proyek menjadi lebih murah, tetapi harus menghasilkan industri baru, tenaga kerja baru, teknologi baru, dan rantai pasok baru di Indonesia,” kata Tohom.
Ia mengatakan proyek DME memiliki arti strategis karena berkaitan dengan agenda hilirisasi sekaligus upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk energi berbasis impor.
Pengembangan DME dari batu bara juga dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya yang selama ini lebih banyak dijual sebagai komoditas.
PTBA menargetkan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, Sumatra Selatan dapat selesai dibangun pada 2030.
Proyek tersebut telah memasuki tahap pengembangan setelah dilakukan groundbreaking pada 29 April 2026.
Tohom menilai target tersebut membutuhkan konsistensi kebijakan karena proyek DME sebelumnya pernah mengalami kendala setelah investor asal Amerika Serikat Air Products & Chemicals Inc hengkang pada 2023.
Ia mengatakan pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran agar struktur investasi, pembagian risiko, harga produk, dan kepastian pasar disiapkan lebih matang.
“Jangan sampai proyek strategis kembali berhenti di tengah jalan karena persoalan keekonomian yang sebenarnya sudah bisa dihitung sejak tahap perencanaan,” ujarnya.
Saat ini calon mitra proyek DME disebut berasal antara lain dari China dan Amerika Serikat, sementara proses pemilihannya berada di bawah kewenangan BPI Danantara.
Tohom melihat keterlibatan Danantara penting untuk memastikan mitra yang dipilih tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi dan manfaat jangka panjang bagi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia harus memiliki posisi tawar kuat ketika berhadapan dengan calon investor asing.
“Mitra boleh datang dari China, Amerika, atau negara mana pun, tetapi kepentingan nasional harus menjadi pusat dari setiap kesepakatan,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan BACBIE juga harus dipandang sebagai proyek penggerak ekonomi kawasan, bukan hanya proyek industri tunggal.
Ia melihat kehadiran kawasan hilirisasi skala besar berpotensi menciptakan simpul pertumbuhan baru bagi Tanjung Enim dan wilayah sekitarnya.
“Kalau dirancang dengan baik, BACBIE bisa menarik industri turunan, logistik, jasa, perumahan, perdagangan, hingga kegiatan ekonomi baru di sekitar kawasan,” ujar Tohom.
Menurutnya, konsep aglomerasi harus masuk dalam perencanaan agar manfaat proyek tidak terkonsentrasi di dalam pagar kawasan industri.
Pemerintah daerah juga perlu dilibatkan untuk mempersiapkan konektivitas, tenaga kerja lokal, tata ruang, pelayanan publik, serta kebutuhan sosial akibat pertumbuhan kawasan.
Tohom menilai keberadaan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di lokasi yang sama dengan BACBIE juga memberikan keuntungan dari sisi kedekatan terhadap infrastruktur energi dan sumber batu bara.
Namun, integrasi tersebut tetap harus mempertimbangkan efisiensi, aspek lingkungan, keselamatan industri, serta perkembangan kebijakan energi nasional.
“Indonesia harus membuktikan bahwa hilirisasi batu bara bukan hanya soal mengubah bentuk komoditas, tetapi mengubah sumber daya alam menjadi fondasi industrialisasi,” katanya.
Ia berharap pengajuan BACBIE menjadi KEK dapat segera memperoleh kepastian setelah seluruh persyaratan dan kajian dinyatakan memenuhi ketentuan.
MARTABAT Prabowo-Gibran juga berharap proyek DME dapat menjadi salah satu contoh bagaimana agenda hilirisasi pemerintahan Prabowo-Gibran diterjemahkan menjadi investasi nyata di daerah.
“Keberhasilan hilirisasi nanti harus terlihat dari bertambahnya industri, berkurangnya ketergantungan impor, meningkatnya kemampuan teknologi nasional, dan semakin besarnya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]