Ini menjadi salah satu target dari peta jalan yang dibuat oleh Holding IBC. Menurutnya tahun ini dimulai dengan melakukan studi bersama dengan para partner.
"Kami juga melakukan kajian detail, harapkan dari segi Engineering Procurement Construction (EPC) baik dari HPAL dan RKEF bisa dilakukan di 2023," tuturnya.
Baca Juga:
Sambut Nataru, PLN dan Mitra Siapkan 4.514 SPKLU di 2.862 Titik serta 69.000 Personel di 3.392 Posko Nasional, ALPERKLINAS: Mobil Listrik Aman Dibawa Mudik
Lalu membangun pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leaching (HPAL), dan pabrik daur ulang sudah dioperasikan pada 2024.
"Operasi tahun 2024 sebagian besar fasilitas produksi kami harapkan sebelum 2025 kita sudah ada produksi baterai dan jadi pemain regional electric vehicle (EV) battery," lanjutnya,
Kemudian jika terus bisa dikembangkan secara komprehensif maka RI akan menjadi pusat produksi di ASEAN pada tahun 2026 mendatang. Artinya pasar ASEAN akan dikuasai RI untuk produk baterai.
Baca Juga:
Bupati Dairi: Penggunaan Energi Listrik Saat Ini Merupakan Sebuah Tuntutan Zaman
"Dan kalau bisa kembangkan komprehensif lagi, tahun 2026 akan jadi EV Baterai production hub di ASEAN, kita kuasai pasar ASEAN dengan produksi baterai kita," jelasnya.
Setelah menguasai pasar ASEAN, IBC akan melakukan ekspansi secara kapasitas, sehingga bisa menjadi pemain global pada 2027. [qnt]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.