WahanaNews.co, Kudus - Budi Santoso menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan untuk mendorong peningkatan ekspor jasa sebagai salah satu potensi besar bagi perekonomian Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi sekolah vokasi agar dapat memasarkan kompetensinya ke pasar internasional.
Menurut Budi, Kemendag akan membantu sekolah vokasi melakukan presentasi bisnis (pitching) serta penjajakan kerja sama melalui kegiatan business matching dengan perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses pasar global sehingga siswa dan lulusan sekolah vokasi berpeluang lebih besar diserap industri internasional.
Baca Juga:
Indonesia Dorong Reformasi Pertanian WTO Jelang KTM ke-14 di Kamerun
Hal tersebut disampaikan Budi saat mengunjungi SMK Raden Umar Said di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (12/3). Sekolah tersebut dikenal memiliki spesialisasi di bidang animasi.
Selain itu, Budi juga mengunjungi dua sekolah vokasi lain di Kudus, yaitu SMK NU Banat Kudus yang berfokus pada tata busana serta SMK Wisudha Karya Kudus yang memiliki spesialisasi jasa keahlian. Ketiga sekolah tersebut merupakan sekolah binaan Djarum Foundation di bidang pendidikan.
“Tugas kami adalah mencarikan pasarnya. Sebagai langkah selanjutnya, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dan 46 perwadag RI untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Perwadag akan mencarikan pembeli, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” ujar Budi.
Ia menambahkan, pitching dengan perwadag RI akan menjadi pintu untuk membuka peluang ekspor jasa, terutama pada sektor jasa bisnis lainnya seperti gim, animasi, niaga elektronik (e-commerce), Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), hingga desain grafis, kemasan, dan fesyen.
Menurut Budi, potensi sektor jasa masih sangat besar untuk dikembangkan. Berdasarkan data Bank Dunia sepanjang periode 2014–2023, kontribusi sektor jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia rata-rata mencapai 63,3 persen. Sementara di Indonesia, kontribusinya masih sekitar 43,8 persen dari PDB nasional.
Sementara itu, data Bank Indonesia mencatat nilai ekspor jasa Indonesia pada 2025 mencapai 42,80 miliar dolar AS.
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Luthfi mengatakan keberadaan sekolah vokasi dan balai latihan kerja (BLK) menjadi sarana penting untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
“Saat ini sudah tersedia 4.200 BLK. Secara tidak langsung pada 2025, serapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang. Investasinya hampir Rp88 triliun dan didominasi sektor padat karya,” kata Luthfi.
Direktur Program Djarum Foundation, Primadi H. Serad, menekankan pentingnya kesiapan lulusan SMK agar dapat terserap optimal oleh industri. Menurut dia, permintaan tenaga kerja di sektor animasi saat ini sangat tinggi, namun ketersediaan talenta masih terbatas.
“Animasi ini permintaannya tinggi, tetapi suplainya sedikit. Tugas kami adalah menjembatani pemenuhan permintaan tersebut. Talenta vokasi harus kompeten dari sisi infrastruktur, guru, dan relasi. Kami berharap pemerintah dapat membantu membuka jalan agar mereka bisa berkarya di dalam maupun luar negeri,” ujar Primadi.
Salah satu siswi SMK Raden Umar Said, Alika, mengaku tertarik mendalami dunia animasi sejak awal masuk sekolah. Ia bercita-cita menjadi concept artist atau storyboard artist.
Saat ini, Alika tengah terlibat dalam proyek pembuatan mini series untuk sebuah merek susu yang akan ditayangkan pada momen Ramadan.
“Proyek yang sedang saya kerjakan adalah membuat mini series dari sebuah jenama susu untuk momen Ramadan,” kata Alika.
Sementara itu, karya pelajar SMK NU Banat Kudus telah dipamerkan hingga ke Jepang, Singapura, Italia, Prancis, dan Hong Kong. Salah satu siswinya, Dayana, mengatakan sekolahnya tidak hanya mengajarkan teknik membuat busana, tetapi juga kemampuan membaca tren fesyen.
“Kami diajarkan membuat busana sesuai tren yang akan berkembang, sehingga ketika berkarya tidak ketinggalan zaman,” ujar Dayana.
Salah satu siswi lain bahkan mengaku termotivasi untuk menjadi wirausahawan dengan mendirikan jenama fesyen lokal sendiri setelah mempelajari materi penjenamaan (branding) di sekolah.
Kunjungan juga dilakukan ke SMK Wisudha Karya Kudus. Di sana, Budi meninjau berbagai fasilitas pelatihan seperti jasa pelayaran, kelistrikan, hingga teknik mesin. Lulusan sekolah tersebut juga telah bekerja di industri luar negeri, termasuk di Jepang.
[Redaktur: Alpredo]