WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tekanan global kembali menghantam rupiah sehingga mata uang Garuda harus menutup perdagangan di zona merah meski sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan pada Mei 2026.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (2/6/2026) ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per dolar AS.
Baca Juga:
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara, Mahfud MD Ragukan Unsur Niat Jahat dalam Kasus Chromebook
Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal berupa ketidakpastian geopolitik global serta sejumlah data ekonomi dalam negeri yang baru dirilis.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai arah pergerakan rupiah masih dibayangi perkembangan konflik dan negosiasi di Timur Tengah serta respons pasar terhadap data ekonomi nasional.
Dari sisi eksternal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung meskipun sebelumnya kantor berita Tasnim melaporkan Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Baca Juga:
Jangan Terjebak Drama, Ini 8 Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Suka Playing Victim
Trump sempat menyatakan tidak keberatan apabila proses pembicaraan tersebut berakhir.
Namun tidak lama kemudian, Trump kembali mengunggah pernyataan di media sosial yang menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berjalan.
Trump juga menyampaikan harapan agar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dapat tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat.
"Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi deeskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran," ujar Ibrahim.
Situasi di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
"Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari Teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50 persen atau lebih," jelas Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga turut menjadi perhatian pasar keuangan dunia.
Pada Senin (1/6/2026), Trump menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor untuk sejumlah komoditas seperti tembaga, aluminium, dan besi.
Kebijakan tersebut juga menurunkan tarif beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen.
Selain itu, tarif sebesar 15 persen ditetapkan untuk berbagai peralatan industri bergerak seperti buldoser dan forklift.
"Jika diimpor dari negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan dan berhak atas perlakuan tersebut," demikian pernyataan Gedung Putih terkait kebijakan baru tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan perubahan tarif itu akan berlaku hingga 31 Desember 2027 guna mendorong investasi jangka pendek dan memperkuat kembali basis industri nasional.
Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami inflasi tahunan sebesar 3,08 persen pada Mei 2026.
Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Secara tahun kalender, inflasi mencapai 1,35 persen.
Adapun secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,28 persen.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali bergerak ke zona ekspansi.
Laporan S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 setelah berada di level 49,1 pada April 2026.
Meski kembali memasuki fase ekspansi, sektor manufaktur masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok yang menahan laju produksi.
Data tersebut mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang relatif stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Perbaikan kinerja manufaktur terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik yang memacu kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut.
Bahkan, pertumbuhan pesanan baru pada Mei 2026 menjadi yang tercepat sejak Februari tahun ini.
Selain itu, BPS juga melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.
Kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi motor utama yang menopang surplus perdagangan nasional.
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS.
Indonesia juga berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan bergerak fluktuatif.
"Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS," kata Ibrahim.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]