WahanaNews.co, Jakarta -
Kementerian Perindustrian menegaskan arah kebijakan baru dalam peningkatan daya saing industri nasional melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai kerangka pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, yang menekankan empat pilar utama mencakup hilirisasi, pengembangan ekosistem industri, penguasaan teknologi, dan penerapan prinsip keberlanjutan.
“Industrialisasi berbasis sumber daya alam diarahkan untuk memperkuat industri komoditas unggulan nasional agar kekayaan alam Indonesia tidak lagi hanya diekspor mentah tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Sementara itu, pengembangan ekosistem industri diharapkan tercapai melalui keterpaduan antara sector hulu dan hilir yang disertai dengan penguatan sumber daya manusia serta infrastruktur industri yang mendukung,” kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Emmy Suryandari dalam keterangan resminya.
Baca Juga:
IKI November 2025 Tetap Lanjutkan Ekspansi Capai 53,45
Sementara itu, pada acara Temu Usaha Industri (TUI) 2025 yang diselenggarakan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Keramik dan Mineral Nonlogam (BBSPJIKMN) di Bandung, Selasa (25/11), Sekretaris BSKJI Kemenperin, Muhammad Taufiq, hadir mewakili Kepala BSKJI bahwa SBIN menjadi pedoman utama pembangunan industri yang produktif, efisien, dan berkelanjutan, termasuk bagi sektor keramik nasional.
“SBIN memberi arah yang jelas bagi pembangunan industri dalam jangka panjang. Melalui strategi ini, peningkatan kualitas dan daya saing industri keramik diharapkan dapat dicapai secara terukur karena dibangun di atas empat pilar utama yang saling terintegrasi, terutama dalam pemanfaatan teknologi dan penerapan standardisasi,” ujar Taufiq dalam sambutannya.
Pada kuartal III tahun 2025, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 17,39 persen, menjadikannya penyumbang terbesar terhadap PDB nasional dibandingkan sektor lainnya. Kontribusi ini juga meningkat sebesar 0,47 persen dibanding kuartal sebelumnya sebesar 16,92 persen. Taufiq menilai capaian tersebut merupakan sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan industri nasional.
Baca Juga:
Menperin Perkuat Pendidikan Vokasi Pacu Kualitas SDM Industri
Di sisi lain, industri keramik nasional telah menunjukkan perkembangan signifikan, dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 625 juta meter persegi dan tingkat utilisasi meningkat menjadi 75% pada kuartal I 2025 dari sebelumnya 60% pada awal 2024.
Taufiq menjelaskan bahwa transformasi teknologi menjadi prasyarat penting bagi peningkatan daya saing industri keramik, terutama bagi pelaku IKM.
Ia menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi yang tepat guna, peningkatan efisiensi, penerapan prinsip industri berkelanjutan, hingga pemenuhan SNI merupakan langkah strategis agar IKM keramik dapat mengambil peran lebih besar dalam pasar nasional dan global.
“Harapan kita agar IKM keramik nasional dapat terus naik kelas melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas produk, sehingga mampu memperkuat jangkauan pasar dan menghadirkan kontribusi ekonomi yang lebih besar,” ucapnya. Demikian dilansir dari laman kemenperingoid, Minggu (30/11).
[Redaktur: JP Sianturi]