WAHANANEWS.CO, Jakarta - Perilaku konsumen dalam memilih furniture mulai mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya harga menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian, kini semakin banyak masyarakat yang lebih mengutamakan kualitas material, daya tahan produk, serta kenyamanan penggunaan.
Baca Juga:
Standar Global, Keuntungan Lokal: Peran ISO dalam Kinerja Ekonomi Perusahaan
Perubahan preferensi tersebut mendorong pelaku industri furniture menghadirkan produk yang tidak hanya menarik dari sisi desain, tetapi juga memiliki nilai guna jangka panjang.
Meningkatnya akses informasi melalui berbagai platform digital membuat konsumen semakin memahami pentingnya kualitas sebelum memutuskan membeli sebuah produk.
Sejumlah aspek yang kini menjadi perhatian utama konsumen meliputi material rangka, kualitas busa atau bantalan, jenis pelapis, hingga kerapian konstruksi dan finishing.
Baca Juga:
Kepuasan Konsumen saat Belanja Melalui E-commerce
Furniture yang menggunakan rangka kayu solid, misalnya, dinilai memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik dibandingkan material berbasis partikel.
Co-Founder Xionco, Marco Halim, mengatakan konsumen saat ini semakin memahami hubungan antara kualitas material dengan usia pakai sebuah produk furniture.
"Dulu orang percaya bahwa murah, berkualitas, dan tampil baik tidak bisa hadir bersamaan. Kami membuktikan sebaliknya," ujar Marco dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, harga sebuah furniture seharusnya mencerminkan kualitas yang benar-benar diterima oleh konsumen. Karena itu, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kualitas, estetika, dan keterjangkauan harga.
Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas juga mendorong produsen untuk menjaga standar produk secara konsisten, mulai dari proses produksi hingga layanan purna jual.
Selain kualitas produk, kecepatan pengiriman dan layanan pelanggan turut menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian.
Co-Founder Xionco, Jansen Halim, menilai kepercayaan pelanggan dibangun melalui pengalaman penggunaan yang sesuai dengan ekspektasi.
"Kami tidak ingin hanya menjual furniture. Kami ingin memastikan setiap produk yang sampai ke tangan konsumen benar-benar memberikan nilai lebih dari yang mereka bayar," kata Jansen.
Ia menambahkan, meningkatnya perhatian konsumen terhadap kualitas menjadi peluang bagi industri furniture nasional untuk menunjukkan daya saingnya.
Kepercayaan sejumlah perusahaan internasional yang beroperasi di Indonesia terhadap produk lokal menunjukkan bahwa kualitas furniture dalam negeri mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
"Kami tidak merasa perlu membandingkan diri dengan brand luar. Fokus kami adalah terus meningkatkan standar produk dan memastikan konsumen mendapatkan yang terbaik dari dalam negeri," ujarnya.
Pelaku industri menilai tren belanja yang semakin berorientasi pada kualitas berpotensi mendorong peningkatan standar produk furniture nasional.
Ke depan, faktor daya tahan, kenyamanan, dan kualitas material diperkirakan akan semakin menentukan pilihan konsumen dibandingkan sekadar pertimbangan harga.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]