WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepanikan menghantam pasar minyak global saat pasokan menipis tajam, membuat pelaku industri berlomba mengamankan minyak mentah yang siap kirim dalam waktu dekat.
Di kawasan Laut Utara, yang menjadi pusat pasar fisik minyak mentah dunia, tekanan terlihat nyata ketika dalam sepekan sekitar 40 penawaran pembelian kargo muncul namun hanya empat yang direspons penjual, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga:
Gencatan Senjata AS-Iran Picu Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 17 Persen
Harga kargo untuk pengiriman beberapa pekan ke depan melonjak hingga menembus lebih dari 140 dollar AS per barel, mencerminkan kelangkaan pasokan yang semakin akut.
Fenomena serupa terjadi di berbagai kawasan lain, dengan kilang minyak berburu pasokan hingga ke sumber-sumber yang sebelumnya tidak lazim.
Kondisi ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kekurangan pasokan minyak mentah global akan semakin terasa dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga:
Rekayasa Teknik Terbesar Dunia, Arab Saudi Bangun Danau Raksasa di Tengah Gurun
Gangguan distribusi dari Timur Tengah menciptakan celah besar dalam rantai pasok energi global yang sulit ditutup dalam waktu singkat.
Lonjakan harga tersebut juga mengindikasikan kemungkinan kilang-kilang di Eropa akan mengikuti langkah Asia dengan menurunkan tingkat produksi.
Langkah pengurangan produksi ini memang dapat membantu menyeimbangkan pasar minyak mentah, namun berisiko memperparah kelangkaan produk turunan seperti solar dan bahan bakar jet.
“Pasar saat ini tidak sehat,” ujar Kepala Riset Sparta Commodities AS, Neil Crosby.
Ia menilai harga minyak Brent fisik sudah terlalu tinggi dan berpotensi memaksa kilang-kilang Eropa menurunkan operasional dalam waktu dekat.
Sementara itu, kondisi pasar fisik berbanding terbalik dengan pasar berjangka yang justru menunjukkan penurunan harga.
Harga minyak untuk pengiriman Juni tercatat turun sekitar 13 persen dalam sepekan dan ditutup di kisaran 95 dollar AS per barel, dipicu optimisme terhadap gencatan senjata.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tekanan pasokan jauh lebih besar dibandingkan sentimen di pasar berjangka.
Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz memang mulai meningkat, tetapi masih jauh dari level normal sebelum konflik terjadi.
Bahkan jika aliran kembali normal, dampaknya tidak akan langsung terasa karena membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga minyak tiba di kilang Asia dan Eropa.
“Dunia kini menghadapi kesenjangan 40 hari dalam arus energi global,” kata CEO Abu Dhabi National Oil Company, Sultan al Jaber, Minggu (12/4/2026).
Kesenjangan ini terjadi karena pengiriman terakhir sebelum konflik baru mulai mencapai tujuan masing-masing.
Kondisi tersebut tercermin dari tingginya premi yang bersedia dibayar kilang demi mendapatkan pasokan dalam waktu cepat.
Sejumlah pembeli di Asia bahkan mengaku tidak lagi berfokus pada harga, melainkan pada ketersediaan demi menjaga keamanan energi.
Harga acuan Dated Brent sempat menyentuh 144 dollar AS per barel sebelum gencatan senjata, melampaui puncak tahun 2008, sebelum turun ke sekitar 126 dollar AS per barel namun tetap jauh di atas kontrak berjangka.
Negara-negara Asia yang bergantung pada Selat Hormuz kini memperluas sumber pasokan ke berbagai wilayah dunia.
Jepang meningkatkan impor dari Amerika Serikat yang mencatat ekspor tertinggi, sementara China mendorong peningkatan pasokan dari Kanada.
India juga memperbesar pembelian dari Venezuela dengan volume pengiriman hampir 6 juta barel pada pekan pertama April, dua kali lipat dibandingkan periode yang sama sebelumnya.
Strategi logistik pun berubah, di mana kilang Jepang memilih kapal berukuran lebih kecil agar dapat melewati Terusan Panama demi mempercepat pengiriman dari AS.
Lonjakan premi pengiriman cepat memicu tekanan tambahan di pasar yang dikenal sebagai kondisi backwardation.
Dalam situasi ini, harga minyak untuk pengiriman segera jauh lebih mahal dibandingkan kontrak jangka panjang.
Kondisi tersebut membuat kilang, terutama yang berskala kecil, menghadapi beban pembiayaan yang semakin berat.
Selain itu, strategi lindung nilai menjadi semakin sulit karena perbedaan harga yang signifikan antara pasar fisik dan derivatif.
“Tantangan besar dalam manajemen risiko harga,” ujar Konsultan energi Roberto Ulivieri.
Secara teori margin terlihat tinggi, namun arus kas riil di lapangan bisa sangat berbeda.
Dampaknya mulai terasa pada produk turunan, di mana sejumlah kilang mengurangi aktivitas yang berpotensi memperketat pasokan.
Harga bahan bakar jet dan solar kini telah mendekati atau bahkan menembus 200 dollar AS per barel.
Di Amerika Serikat, stok bensin turun ke level terendah dalam hampir 16 tahun, memicu kekhawatiran dampak lanjutan ke pasar domestik.
“Pasar fisik kini bergerak mengikuti realitas gangguan pasokan, bukan sekadar sentimen,” kata analis Energy Aspects, Amrita Sen.
Ia menilai jika harga pasar berjangka tidak segera menyesuaikan, ekspor minyak AS akan terus meningkat dan berpotensi mengurangi pasokan bagi kilang dalam negeri.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]