Peristiwa ini terjadi di tengah sorotan internasional terhadap perluasan permukiman Israel di wilayah pendudukan.
Berbagai pihak menilai pembangunan permukiman tersebut melanggar hukum internasional dan semakin memperburuk situasi kemanusiaan serta ketegangan di kawasan.
Baca Juga:
Gedung Tinggi di Gaza Dihantam Israel, Puluhan Warga Palestina Tewas
Selain menghadapi krisis air, warga Palestina di sekitar Umm Safa juga dilaporkan semakin kesulitan mengakses lahan pertanian mereka.
Pembatasan akses dan meningkatnya serangan terhadap lahan pertanian menyebabkan aktivitas ekonomi masyarakat terganggu.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan terhadap lahan pertanian mencakup pembakaran, penghancuran menggunakan alat berat, hingga pembatasan pergerakan petani menuju area pertanian mereka.
Baca Juga:
Gaza Berdarah Lagi: Israel Dituding Umpan Warga Lapar ke Ladang Pembantaian
Kelompok pemukim Israel yang beroperasi dari sejumlah pos permukiman ilegal di wilayah Tepi Barat juga disebut kerap melakukan tindakan kekerasan terhadap warga Palestina.
Di sisi lain, media Israel melaporkan bahwa pemerintah Israel berencana mengalokasikan dana sebesar 1,89 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp33,4 miliar untuk kelompok pemukim ekstrem Hilltop Youth.
Kelompok tersebut berbasis di sejumlah pos permukiman ilegal di Tepi Barat dan kerap dikaitkan dengan berbagai aksi kekerasan terhadap warga Palestina.