WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan Iran dan Amerika Serikat sontak memanas setelah seorang jenderal senior Iran melontarkan ancaman terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden AS Donald Trump.
Ancaman keras tersebut disampaikan di tengah laporan pergerakan aset militer Amerika Serikat, termasuk penempatan ulang sedikitnya satu kapal induk ke kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
AS Geser Kapal Induk, Israel Sebut AS Siap Hantam Iran
Pejabat yang menyampaikan peringatan itu adalah Jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohsen Rezaei, figur militer berpengaruh yang juga menjabat anggota Dewan Kebijaksanaan Iran.
“Trump mengatakan tangannya sudah berada di pelatuk, kami akan memotong tangan dan jarinya,” tegas Mohsen Rezaei dalam pidato publiknya, Rabu (14/1/2025).
Rezaei menegaskan ancaman tersebut berkaitan langsung dengan potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dinilainya semakin nyata.
Baca Juga:
Iran Tegaskan Komitmen Lindungi Hak Demonstrasi di Tengah Gejolak Ekonomi
Ia menyatakan bahwa Teheran tidak akan membuka ruang kompromi apabila wilayahnya diserang oleh Washington.
“Jika kami bergerak maju, tidak akan ada lagi pembicaraan gencatan senjata,” ujar Mohsen Rezaei.
Ancaman itu diikuti peringatan lanjutan yang menyoroti kerentanan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Mundurlah sekarang, jika tidak, tak satu pun pangkalan kalian di kawasan ini yang akan aman,” lanjut Mohsen Rezaei.
Sementara itu, sumber militer Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa aset udara, darat, dan laut AS sedang digerakkan untuk menyediakan opsi militer bagi Trump.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari skenario jika presiden AS memerintahkan serangan langsung ke Iran.
Hingga kini belum ada kepastian apakah kapal induk yang diposisikan ulang adalah USS Abraham Lincoln atau armada lain yang baru bertolak dari Norfolk dan San Diego.
Mohsen Rezaei dikenal sebagai tokoh sentral militer Iran karena pernah menjabat Panglima IRGC dalam waktu lama.
Namanya tercantum dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS sejak Januari 2020 karena dinilai berperan dalam agenda destabilisasi kawasan.
Di sisi lain, Iran juga tengah diguncang gejolak internal yang telah berlangsung selama 19 hari berturut-turut.
Badan Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) mencatat sedikitnya 2.677 orang telah ditangkap aparat keamanan di tengah gelombang ketegangan domestik.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]