Di pihak lain, Iran menunjukkan sikap tak kalah keras. Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut kehadiran militer AS di kawasan sebagai "tidak dapat ditoleransi" dan berjanji akan mengurangi pengaruh Washington di Selat Hormuz.
Ketegangan juga merembet ke negara kawasan. Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim berhasil mencegat serangan rudal dan drone Iran selama dua hari berturut-turut, meski Teheran membantah tudingan tersebut.
Baca Juga:
Putin Tetapkan Gencatan Senjata 2 Hari, Ukraina Diingatkan Soal Serangan
Militer Israel juga dilaporkan ikut bersiaga. Kepala Angkatan Udara Omer Tischler mengatakan pihaknya siap mengerahkan kekuatan penuh ke kawasan timur jika diperlukan. Hal senada disampaikan Kepala Staf Militer Eyal Zamir yang menegaskan status "siaga tinggi".
Meski konflik belum kembali meledak penuh, dampaknya sudah terasa ke ekonomi global. Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, mendorong kenaikan biaya energi dan menekan stabilitas pasar, terutama di Asia.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tetap membuka pintu dialog, tetapi menolak tekanan maksimal dari AS. "Pendekatan itu tidak mungkin diterima," ujarnya.
Baca Juga:
Siaga Perang Gaza: Israel Sudah Siap-Siap Babak Baru Pecah
Dari Eropa, tekanan diplomatik terus mengalir. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan serangan di kawasan Teluk tidak bisa diterima.
"Keamanan wilayah ini memiliki konsekuensi langsung bagi Eropa," katanya.
Seruan serupa datang dari Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mendesak Iran kembali ke meja perundingan.