WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menargetkan konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina dapat diakhiri sebelum Juni tahun ini.
Ia menyebutkan, Washington untuk pertama kalinya mengajukan gagasan agar delegasi perunding dari Ukraina dan Rusia bertemu secara langsung di wilayah Amerika Serikat.
Baca Juga:
Damai Ukraina–Rusia Tersisa 10 Persen, Zelenskyy Ingatkan Ancaman Invasi Berulang
Mengutip laporan BBC News, Selasa, 10 Februari 2026, pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Miami pada pekan depan.
Pemerintah Ukraina telah menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam perundingan tersebut sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar diplomatik atas perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Washington maupun Moskow terkait rencana pertemuan tersebut.
Baca Juga:
Zelenskyy Minta Jaminan Keamanan 50 Tahun ke Trump, Damai Ukraina Masih Terkendala
Namun demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui terus menekan berbagai pihak agar konflik segera diselesaikan sejak kembali menduduki Gedung Putih.
Pernyataan Zelenskyy muncul setelah putaran kedua perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Abu Dhabi berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan berarti.
Ia mengakui bahwa sejumlah isu krusial masih menjadi batu sandungan, termasuk dorongan agar Ukraina bersedia melakukan konsesi wilayah yang hingga kini sulit diterima Kiev.
Selain itu, Zelenskyy juga menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya muncul pembahasan mengenai kemungkinan digelarnya pertemuan trilateral di tingkat kepala negara.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa wacana tersebut masih memerlukan persiapan menyeluruh serta kesepakatan awal di tingkat teknis dan diplomatik.
Terkait batas waktu penyelesaian konflik, Zelenskyy mengatakan Amerika Serikat ingin menuntaskan seluruh proses sebelum memasuki musim panas.
Pertimbangan tersebut tidak terlepas dari dinamika politik domestik AS, termasuk pelaksanaan pemilu paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Di tengah intensifnya upaya diplomasi, Rusia dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina.
Serangan terbaru menyasar gardu induk, jaringan distribusi listrik, serta pembangkit tenaga, yang mengakibatkan pemadaman listrik secara luas di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut semakin memperparah situasi warga, terutama karena terjadi saat cuaca berada pada suhu yang sangat dingin.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]