WAHANANEWS.CO, Jakarta - Langit dunia ternyata diselimuti polusi raksasa dari segelintir bandara, dengan Dubai International Airport dinobatkan sebagai bandara paling mencemari planet ini.
Temuan itu terungkap dalam penelitian terbaru ODI Global bersama Transport and Environment (T&E) yang menganalisis dampak iklim dan kualitas udara dari 1.300 bandara internasional menggunakan data tahun 2023.
Baca Juga:
Iran Bangkit Lagi! 90 Persen Basis Rudal di Selat Hormuz Kembali Aktif
Laporan tersebut dipublikasikan dan dikutip Euro News pada Rabu (13/5/2026).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika industri penerbangan dianggap sebagai sebuah negara, sektor ini akan menjadi penyumbang emisi karbon terbesar kelima di dunia.
Dubai International Airport di Uni Emirat Arab menempati posisi pertama dengan emisi mencapai 23,2 juta ton karbon dioksida (CO2).
Baca Juga:
Emas Rp95 Juta Hilang Usai Rumah di Deli Serdang Digeledah 6 Pria Ngaku Polisi
Posisi kedua ditempati Heathrow Airport di Inggris dengan emisi 21 juta ton CO2.
Di urutan ketiga terdapat Los Angeles International Airport di Amerika Serikat yang menghasilkan 18,8 juta ton CO2.
Secara gabungan, tiga bandara tersebut menghasilkan emisi tiga kali lebih besar daripada total emisi Kota Paris, di luar emisi yang berasal langsung dari penerbangan.
Incheon International Airport di Korea Selatan menempati posisi keempat.
John F. Kennedy International Airport di Amerika Serikat berada di posisi kelima.
Bandara lain yang juga masuk daftar pencemar terbesar adalah Hong Kong International Airport, Charles de Gaulle Airport, dan Frankfurt Airport.
Penelitian tersebut juga mengungkap hanya 100 bandara di dunia yang bertanggung jawab atas sekitar dua pertiga total emisi CO2 dari penerbangan penumpang.
Bandara-bandara di Eropa disebut menghasilkan emisi lebih besar dibandingkan total gabungan bandara di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika.
Transport and Environment menilai industri penerbangan masih sangat jauh dari target net zero emission pada 2050.
“Membiarkan sektor yang bergantung pada bahan bakar fosil terus berkembang dengan meningkatkan kapasitas bandara hanya memperkuat kerentanan terbesar sektor penerbangan,” kata Denise Auclair dari T&E.
Menurutnya, ekspansi bandara di banyak wilayah Eropa kini semakin sulit dibenarkan secara ekonomi jika dampak lingkungan diperhitungkan.
Tren emisi penerbangan terus meningkat sejak Perjanjian Paris 2015, meskipun banyak sektor lain justru mulai menekan emisi karbonnya.
Demikian dikatakan peneliti ODI Global, Sam Pickard.
Ia juga mengkritik rencana perluasan bandara yang masih terus berjalan di berbagai negara.
“Janji penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau skema kompensasi karbon saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Sementara itu, Heathrow Airport menyatakan telah memiliki peta jalan yang jelas untuk mencapai target net zero.
Pihak bandara menegaskan bahwa rencana ekspansi tetap akan mengikuti ketentuan Pemerintah Inggris terkait karbon, kualitas udara, dan kebisingan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]