WahanaNews.co | Presiden Vladimir Putin menyebutkan, pada 1990-an dan awal 2000-an pemerintah Rusia dipenuhi pekerja Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS). Alhasil, akhirnya terjadi aksi ‘bersih-bersih’, dan agen-agen intelijen dikirim pulang ke AS.
Berbicara pada pertemuan Dewan Masyarakat Sipil dan Hak Asasi Manusia pada hari Kamis, Putin menggunakan contoh orang Amerika di dalam pemerintahan Rusia untuk menunjukkan bagaimana negara-negara asing berusaha mencampuri urusan dalam negeri negaranya.
Baca Juga:
Operasi CIA di Indonesia: Dari Film Panas hingga Daftar Perburuan Komunis Kelam
“Pada awal 2000-an, saya sudah membersihkan semua orang, tetapi pada pertengahan 1990-an, kami memiliki, belakangan, kader Badan Intelijen Pusat AS duduk sebagai penasihat dan bahkan pegawai resmi pemerintah Rusia,” kata Putin.
“Mereka kemudian diadili di Amerika Serikat karena melanggar hukum AS dan mengambil bagian dalam privatisasi ketika mereka adalah karyawan CIA yang bekerja untuk kami,” lanjut Presiden Putin, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (11/12/2021).
Menurut Putin, beberapa spesialis Amerika ditempatkan di fasilitas senjata nuklir Rusia dan bahkan duduk di meja dengan bendera AS.
Baca Juga:
Wanita Mabuk Dihunjam Timah Panas Usai Terobos Gerbang CIA di Virginia
“Mereka tinggal dan bekerja di sana. Mereka tidak membutuhkan alat campur tangan yang begitu halus dalam kehidupan politik kita karena mereka tetap mengendalikan segalanya,” lanjut dia.
Ini bukan pertama kalinya Putin menuduh Amerika mencampuri urusan dalam negeri Rusia, terutama segera setelah jatuhnya Uni Soviet dan privatisasi aset milik pemerintah.
Pada 2013, presiden Rusia itu mengeklaim bahwa petugas CIA bekerja dalam rombongan Anatoly Chubais, wakil perdana menteri yang mengawasi proses privatisasi. Dia kemudian menjadi kepala staf Kremlin.