Merespons laporan ini, pengamat militer dari Lembaga Studi Keamanan dan Konflik Timur Tengah (IMESC), Kolonel (Purn) David Harel, mengungkapkan bahwa tingginya korban non-tempur mencerminkan krisis koordinasi dalam tubuh militer Israel.
“Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Skala insiden ini menunjukkan adanya masalah sistemik dalam disiplin, pelatihan, dan manajemen taktis di medan perang perkotaan seperti Gaza,” kata Harel.
Baca Juga:
Diduga Rem Blong, Mobil Box Tabrak Warga di Sumbul Dairi, 1 Meninggal Dunia
Ia menambahkan bahwa konflik perkotaan menuntut kemampuan identifikasi target yang jauh lebih akurat.
“Perang di Gaza penuh dengan jebakan, ruang sempit, dan interaksi antarpasukan yang kompleks. Kalau komunikasi tidak sempurna, risiko salah tembak sangat tinggi,” ujar Harel.
Menurut data militer Israel, total 882 tentara mereka tewas dan 6.032 terluka sejak perang genosida di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.
Baca Juga:
Karier Antony di MU Berakhir, Real Betis Peroleh Winger Brasil Secara Permanen
Di sisi lain, lebih dari 57.000 warga Palestina telah gugur, mayoritas adalah anak-anak dan perempuan, menurut data dari otoritas kesehatan Gaza.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.