Kisah-kesah ini bukan kasus tunggal, melainkan gambaran nyata dari krisis yang meluas, kata Zak Dychtwald, pendiri lembaga penelitian Young China Group di Shanghai.
"Masalah terbesar sekarang adalah ketimpangan besar antara kerja keras yang mereka lakukan selama kuliah dan kenyataan pekerjaan yang ada di depan mata," ujarnya.
Baca Juga:
Imigrasi Meulaboh Deportasi Empat Warga Negara China Akibat Pelanggaran Izin Tinggal di Aceh
Zhou Yun, asisten profesor sosiologi di Universitas Michigan, menambahkan bahwa meskipun lulusan sekolah elit atau jurusan seperti otomasi dan AI masih dicari, persaingan yang makin ketat dan penyusutan industri yang dulu banyak menyerap tenaga kerja muda-seperti perusahaan rintisan internet dan sektor pendidikan, membuat situasi makin sulit.
"Ada alasan struktural yang mendalam di balik semua ini," tegasnya.
Baca Juga:
China Suspend 19 Perusahaan Sarang Burung Walet RI, Ini Sumber Masalahnya!
Situasi ini memicu pergeseran sikap besar di kalangan pemuda China. Berbeda dengan generasi orang tua mereka yang mau menerima pekerjaan apa saja demi bertahan hidup, lulusan masa kini makin enggan mengambil pekerjaan berkualitas rendah, tidak stabil, atau jauh di bawah harapan mereka. Banyak juga yang tidak lagi tertarik memulai usaha kecil seperti berjualan di jalanan, yang dulu dianggap jalan keluar ekonomi.
Eli Friedman, profesor tenaga kerja global di Universitas Cornell, menjelaskan, "Bagi anak muda berusia 22-23 tahun yang baru lulus, bekerja serabutan atau berdagang kecil-kecilan bukan lagi pilihan yang dianggap wajar atau bermartabat. Budaya kerja mereka sudah berubah."
Hal ini melahirkan fenomena "tangping" atau "merunduk" yaitu sikap menarik diri dari persaingan kerja yang terlalu ketat, menolak bekerja keras berlebihan, dan memilih hidup sederhana atau menganggur daripada menerima pekerjaan yang tidak sesuai nilai diri mereka.