Banyak yang kecewa berat karena janji bahwa "pendidikan tinggi akan menjamin kehidupan lebih baik" ternyata tidak terwujud. Secara psikologis, dampaknya sangat dalam.
"Ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan bukan hanya masalah ekonomi, tapi menghilangkan rasa hormat diri dan tujuan hidup. Ini meruntuhkan kepercayaan yang sudah mereka pegang sejak lama," kata Zhou Yun.
Baca Juga:
Imigrasi Meulaboh Deportasi Empat Warga Negara China Akibat Pelanggaran Izin Tinggal di Aceh
Masalah Makin Parah
Kondisi ini justru makin memburuk seiring berjalannya waktu. Jumlah lulusan perguruan tinggi di China terus memecahkan rekor. Pada 2025, tercatat 12,22 million mahasiswa baru lulus, melonjak tajam dari 9 juta orang pada 2021.
Pada 2026 ini, jumlahnya naik lagi menjadi 12,7 juta orang, jumlah tertinggi sepanjang sejarah sehingga memperketat persaingan hingga batas maksimal.
Baca Juga:
China Suspend 19 Perusahaan Sarang Burung Walet RI, Ini Sumber Masalahnya!
Di sisi lain, tingkat pengangguran anak muda tetap tinggi. Data resmi terbaru per April 2026 menunjukkan tingkat pengangguran untuk usia 16-24 tahun mencapai 16,3%, turun sedikit dari 16,9% di bulan Maret, tetapi masih sangat tinggi dan jauh di atas rata-rata nasional (sekitar 5%).
Saat jutaan sarjana menganggur, China justru kekurangan sekitar 30 juta tenaga kerja terampil di sektor manufaktur, konstruksi, dan jasa teknis pada tahun 2025-2026. Lulusan banyak, tapi keahlian mereka tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan industri. Ketidaksesuaian keterampilan ini menjadi akar masalah utama.
Pemerintah Beijing sudah mengakui masalah ini sangat mendesak. Dalam Laporan Kerja Pemerintah 2025-2026, mereka menargetkan menciptakan lebih dari 12 juta lapangan kerja baru per tahun, memberikan subsidi gaji, pemotongan pajak, bantuan pengangguran, dan dukungan kewirausahaan. Namun, hasilnya belum terasa nyata karena pemulihan ekonomi lambat, sektor swasta kurang berani merekrut, dan perubahan struktur industri berjalan lambat.