WAHANANEWS.CO, Jakarta - Operasi militer rahasia Amerika Serikat mengguncang Caracas setelah pasukan elite Negeri Paman Sam menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam penyergapan tengah malam yang berlangsung cepat dan senyap, Sabtu (3/1/2026).
Penangkapan dilakukan saat Maduro dan Flores tengah tertidur, menurut dua sumber yang mengetahui jalannya operasi, ketika pasukan elite Delta Force dari Angkatan Darat AS menerobos kediaman presiden dan menyeret keduanya keluar kamar tanpa perlawanan.
Baca Juga:
Trump Klaim Tangkap Presiden Venezuela, Pemerintah Maduro Nyatakan Tidak Tahu Keberadaan Pemimpinnya
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut operasi tersebut berlangsung singkat dan tidak menimbulkan korban jiwa di pihak militer AS.
“Ya, Iwo Jima, mereka berada di atas kapal,” kata Presiden AS Donald Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News, Sabtu pagi waktu setempat.
Trump membenarkan bahwa Maduro dan Flores kini dalam perjalanan menuju New York dengan kapal induk USS Iwo Jima setelah dievakuasi dari Venezuela.
Baca Juga:
32 Warga Kuba Tewas dalam Operasi AS di Venezuela
“Helikopter membawa mereka keluar, dan mereka pergi dalam penerbangan yang menyenangkan—saya yakin mereka menyukainya,” ujar Trump.
Ia kemudian menambahkan pernyataan bernada keras terkait rekam jejak Maduro yang dituding bertanggung jawab atas banyak kematian.
“Tapi mereka, mereka membunuh banyak orang, ingat itu,” ucap Trump.
Trump mengungkapkan bahwa sebelum operasi dijalankan, dirinya telah menyampaikan ultimatum langsung kepada Maduro agar menyerah kepada Amerika Serikat.
“Pada dasarnya saya bilang, Anda harus menyerah, Anda harus tunduk,” ujar Trump seperti dikutip dari CNN.
Ia mengaku sempat berbicara dengan Maduro sekitar satu pekan sebelum penangkapan dan menyaksikan langsung operasi tersebut dari ruang kendali di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida.
“Saya diberitahu oleh orang-orang militer bahwa tidak ada negara lain di dunia ini yang bisa melakukan manuver seperti itu,” kata Trump.
Trump memuji kecepatan dan daya gempur pasukan AS yang terlibat dalam operasi lintas negara tersebut.
“Kalau Anda lihat kecepatan dan kekerasannya—begitulah istilahnya—itu sungguh luar biasa,” ujar Trump.
Ia menilai operasi itu sebagai keberhasilan besar militer Amerika Serikat.
“Pekerjaan luar biasa dari orang-orang ini,” ucapnya.
Trump menjelaskan bahwa seluruh proses penangkapan dipantau secara langsung melalui sistem pemantauan real-time bersama para jenderal militer AS.
“Kami menontonnya, dikelilingi banyak orang, termasuk para jenderal, dan mereka tahu semua yang terjadi,” kata Trump.
Ia menekankan kompleksitas operasi yang dilakukan di jantung kekuasaan Venezuela.
“Itu sangat kompleks,” ujarnya.
Menurut Trump, pasukan AS berhasil menembus sistem pengamanan berlapis yang dirancang khusus untuk melindungi Maduro, termasuk pintu-pintu baja berteknologi tinggi.
“Mereka menerobos tempat-tempat yang sebenarnya tidak mungkin ditembus,” kata Trump.
Ia menyebut pintu baja tersebut dapat ditembus hanya dalam hitungan detik oleh pasukan elite AS.
“Pintu baja itu dipasang khusus untuk perlindungan, tetapi mereka bisa menembusnya dalam hitungan detik,” ujar Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa operasi ini melibatkan dukungan besar dari unsur udara, termasuk helikopter dan jet tempur.
Alasan utama Amerika Serikat menargetkan Maduro, menurut Trump, adalah tuduhan bahwa pemimpin Venezuela itu memimpin negara narkoba dan memanipulasi hasil pemilu presiden Venezuela pada 2024.
Washington menuding Maduro menjadi dalang perdagangan kokain lintas negara dan terlibat dalam penyebaran krisis fentanil yang melanda Amerika Serikat.
Pemerintah AS telah menetapkan dua organisasi asal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai organisasi teroris asing.
Trump bahkan menuding Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro.
Pemerintah Venezuela membantah seluruh tuduhan tersebut dan menilai langkah Amerika Serikat sebagai upaya mempolitisasi perang melawan narkoba.
Caracas menilai operasi penangkapan itu bermuatan kepentingan ekonomi, terutama untuk menguasai cadangan minyak Venezuela yang termasuk terbesar di dunia.
Maduro yang kini berusia 63 tahun dikenal sebagai mantan sopir bus yang ditunjuk langsung oleh Presiden Hugo Chavez sebagai penerusnya sebelum Chavez wafat pada 2013.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]