WAHANANEWS.CO, Jakarta - Langit Laut Arab memanas ketika sebuah jet tempur Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran yang bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln, memicu sorotan baru atas ketegangan militer Washington dan Teheran.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa (3/2/2026) saat militer Amerika Serikat mendeteksi sebuah drone Iran yang terbang mendekati kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dengan manuver yang dinilai berbahaya.
Baca Juga:
AS Serang Kapal Narkoba di Pasifik, Tiga Tewas dalam Operasi Southern Spear
Militer AS menyebut drone tersebut merupakan Shahed-139 milik Iran yang terbang dengan “tujuan yang tidak jelas” sehingga memaksa jet tempur F-35 mengambil tindakan pertahanan.
“Sebuah jet tempur F-35C dari Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran tersebut untuk membela diri dan melindungi kapal induk serta personel di dalamnya,” ujar juru bicara Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) yang juga Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins.
Menurut laporan militer, penembakan dilakukan di perairan internasional dan dinilai sebagai langkah defensif untuk mencegah potensi ancaman terhadap aset dan personel Amerika Serikat.
Baca Juga:
Vonis Berat 146 Tahun untuk Produser Hollywood Pembunuh Model Christy Giles
Pemerintah Iran melalui perwakilannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa memilih tidak memberikan komentar resmi terkait insiden penembakan drone tersebut.
Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan bahwa kontak dengan sebuah drone di perairan internasional memang hilang, namun penyebab hilangnya drone itu belum dapat dipastikan.
Hawkins memastikan insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan pada peralatan militer Amerika Serikat.
“Tidak ada personel militer AS yang terluka dan tidak ada peralatan AS yang rusak dalam insiden ini,” kata Hawkins.
Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln diketahui dikerahkan ke Timur Tengah atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyusul ancamannya untuk menyerang Teheran jika Iran menolak berunding soal program nuklir.
Langkah militer ini juga disebut sebagai respons atas demonstrasi berdarah di Iran sejak akhir Desember yang dilaporkan telah menewaskan ribuan orang.
Namun, penembakan drone tersebut justru terjadi di tengah situasi hubungan AS dan Iran yang mulai menunjukkan tanda pelunakan melalui dorongan dialog diplomatik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan telah menyatakan kesediaan membuka dialog dengan Amerika Serikat meski tetap memperingatkan bahwa setiap serangan dari Negeri Paman Sam akan dibalas dengan konsekuensi keras.
Selain insiden drone, beberapa jam setelahnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan mengganggu sebuah kapal niaga berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz.
“Dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menaiki dan menyita kapal tanker tersebut,” ujar Hawkins.
Kelompok manajemen risiko maritim Vanguard melaporkan kapal-kapal Iran sempat memerintahkan tanker tersebut untuk mematikan mesin dan bersiap dinaiki.
Namun, tanker M/V Stena Imperative justru meningkatkan kecepatan dan melanjutkan pelayaran menjauh dari ancaman.
Hawkins menyebut kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat USS McFaul berada di kawasan tersebut dan melakukan pengawalan terhadap kapal tanker itu.
“Situasi kemudian mereda, dan tanker berbendera AS itu melanjutkan pelayaran dengan aman,” ujarnya.
Di tengah eskalasi militer ini, pemerintah Amerika Serikat menegaskan rencana dialog dengan Iran tetap berjalan.
“Saya baru saja berbicara dengan utusan khusus Steve Witkoff, dan pembicaraan ini hingga saat ini masih dijadwalkan,” ujar juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan.
Leavitt menyebut pertemuan antara perwakilan Amerika Serikat dan Iran direncanakan berlangsung pada akhir pekan ini.
“Presiden Trump selalu ingin mengedepankan diplomasi terlebih dahulu, tetapi tentu saja dibutuhkan dua pihak untuk berdansa,” kata Leavitt di luar Sayap Barat Gedung Putih.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada AFP bahwa pertemuan antara Witkoff dan pejabat Iran kemungkinan akan digelar di Turki, yang belakangan menawarkan diri sebagai mediator.
Witkoff sendiri dikenal sebagai pengusaha yang ditunjuk Presiden Trump sebagai negosiator Amerika Serikat untuk sejumlah konflik global.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]