WAHANANEWS.CO, Jakarta - Seorang pangeran muda Arab Saudi ditemukan tewas di kamar mandi sebuah hotel mewah di London dengan kandungan alkohol, narkoba, dan sejumlah obat penenang dalam tubuhnya sehingga hasil penyelidikan mengungkap fakta mengejutkan di balik kematian anggota keluarga kerajaan tersebut.
Peristiwa itu terungkap dalam sidang pemeriksaan kematian (inquest) di Pengadilan Koroner Inner West London yang mengungkap penyebab wafatnya Pangeran Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud yang berusia 29 tahun.
Baca Juga:
Dukung Rakyat Palestina, Arab Saudi Kirim 25.000 Porsi Makanan ke Gaza
Berdasarkan laporan toksikologi yang dipaparkan dalam persidangan, kadar alkohol dalam darah Abdullah mencapai hampir tiga kali lipat di atas batas legal mengemudi dalam keadaan mabuk di Inggris.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar etanol dalam darah Abdullah mencapai 222 miligram per 100 mililiter darah," demikian dipaparkan dalam laporan toksikologi yang dibacakan di persidangan.
Laporan tersebut menyebut batas legal mengemudi di Inggris hanya 80 miligram per 100 mililiter darah sehingga kadar alkohol dalam tubuh sang pangeran berada jauh di atas ambang batas tersebut.
Baca Juga:
Jemaah Haji Lansia RI Hilang di Makkah Pekan Lalu Masih Dicari
Selain alkohol, tim forensik menemukan kandungan gamma-hydroxybutyrate (GHB) atau yang dikenal sebagai party drug dalam kadar yang berpotensi mematikan.
Di dalam tubuhnya juga ditemukan jejak ganja, alprazolam atau Xanax, serta sejumlah obat antikecemasan lainnya.
Sidang mengungkap kombinasi berbagai zat tersebut memicu henti jantung yang akhirnya merenggut nyawa anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi itu.
Jenazah Abdullah ditemukan di kamar mandi kamar hotel Marriott Kensington, London Barat, yang tarifnya mencapai sekitar 600 euro atau sekitar Rp12,2 juta per malam.
Peristiwa penemuan jenazah itu terjadi pada Selasa (25/11/2025) ketika seorang petugas kebersihan memasuki kamar hotel setelah tidak mendapat respons dari penghuni.
"Korban ditemukan tergeletak di lantai kamar mandi dengan pintu terkunci dari dalam dan masih mengenakan pakaian lengkap," terungkap dalam persidangan.
Petugas medis yang datang ke lokasi sempat berupaya memberikan pertolongan namun nyawa Abdullah tidak berhasil diselamatkan.
Persidangan juga mengungkap Abdullah telah lama berjuang melawan ketergantungan alkohol dan obat penenang Xanax.
Sekitar tiga bulan sebelum meninggal dunia, ia menjalani rehabilitasi di Priory Clinic, Roehampton, London, yang dikenal sebagai salah satu pusat rehabilitasi eksklusif dengan biaya perawatan mencapai sekitar 35.000 euro atau sekitar Rp715 juta per pekan.
Di fasilitas tersebut, Abdullah menjalani program detoksifikasi dari alkohol, obat golongan benzodiazepin, dan pregabalin yang biasa digunakan untuk menangani gangguan kecemasan.
Setelah menyelesaikan program rehabilitasi awal, Abdullah melanjutkan pemulihan di Rainford Hall, sebuah klinik rehabilitasi swasta di Merseyside.
Biaya rehabilitasi di tempat tersebut dilaporkan mencapai sekitar 7.000 euro atau sekitar Rp143 juta setiap pekan.
Selama menjalani perawatan lanjutan, Abdullah sempat didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada Selasa (14/10/2025).
Beberapa minggu kemudian, tepatnya pada Rabu (19/11/2025), Abdullah kembali menginap di Marriott Hotel London dengan rencana tinggal selama sepekan.
Rekaman kamera pengawas memperlihatkan aktivitas terakhir Abdullah pada malam sebelum meninggal ketika ia keluar hotel seorang diri untuk merokok.
"Rekaman CCTV menunjukkan tidak ada seorang pun yang mendampingi Abdullah pada malam terakhir sebelum kematiannya," demikian diungkap dalam sidang.
Penyelidik tidak menemukan tanda-tanda adanya tindak kekerasan maupun keterlibatan pihak lain dalam kematian tersebut.
Hasil autopsi akhirnya menyimpulkan bahwa Abdullah meninggal akibat henti jantung yang dipicu oleh kombinasi konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi bersama berbagai jenis obat-obatan dan narkotika.
Penyelidikan resmi juga memastikan tidak ditemukan indikasi bahwa kematian Abdullah merupakan tindakan bunuh diri.
Kasus ini kembali menjadi sorotan internasional karena memperlihatkan bagaimana penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan dapat berujung fatal meskipun seseorang telah beberapa kali menjalani program rehabilitasi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]