Heidari Alekasir, anggota Majelis Ahli Iran, menjelaskan bahwa kandidat pemimpin tertinggi dipilih berdasarkan nasihat Ali Khamenei sebelum wafat. Menurutnya, pemimpin tertinggi Iran seharusnya tidak dipuji oleh musuh negara.
"Ia dipilih berdasarkan nasihat mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya 'dibenci oleh musuh' alih-alih dipuji oleh mereka," ujar Heidari.
Baca Juga:
Apresiasi Nasional: Saifullah Yusuf Puji Capaian UHC Kabupaten Karawang, Bukti Negara Hadir untuk Rakyat
Ia juga menyindir pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima." "Bahkan Setan Besar [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya," kata Heidari.
Pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama. Sebelumnya lembaga ini menyatakan telah mencapai konsensus mayoritas mengenai pengganti Ali Khamenei tanpa mengungkapkan namanya.
Ali Khamenei sendiri memimpin Iran selama 37 tahun setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama dalam Revolusi Iran 1979. Ali Khamenei tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel di Teheran, yang juga menandai dimulainya perang besar yang mengakibatkan kekacauan di Timur Tengah.
Baca Juga:
Indikator Makro 2026 Menguat: Ekonomi Kabupaten Karawang Stabil, Pengangguran dan Kemiskinan Turun Signifikan
Militer Israel sebelumnya mengancam akan membunuh siapapun yang menggantikan posisi Khamenei. Presiden AS Donald Trump juga sempat menyatakan ingin turut menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya. Trump menyatakan bahwa perang kemungkinan hanya akan berakhir setelah militer dan para pemimpin Iran dilumpuhkan.
Pada Minggu (8/3), Trump juga menegaskan bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari AS. "Ia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika ia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, ia tidak akan bertahan lama," kata Trump kepada ABC News.
Pernyataan tersebut langsung ditanggapi keras oleh pejabat-pejabat Iran, yang menegaskan bahwa hanya rakyat Iran yang berhak menentukan masa depan negaranya, termasuk memilih pemimpin tertinggi.