Pemakaman pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989 pernah dihadiri sekitar 10 juta pelayat. Acara tersebut bahkan sempat memicu kekacauan ketika aparat hampir kehilangan kendali atas peti jenazah Khomeini akibat membludaknya massa.
Prosesi pemakaman di Teheran akan berlangsung selama tiga hari dengan sebagian wilayah udara ibu kota ditutup sementara. Setelah itu jenazah akan dipindahkan ke Kota Qom pada Selasa sebelum dibawa ke Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu.
Baca Juga:
Trump Umumkan Hentikan Operasi Militer AS di Selat Hormuz
Najaf dan Karbala merupakan dua kota suci Syiah yang memiliki hubungan erat dengan Iran. Khamenei kemudian dijadwalkan dimakamkan pada Kamis di kota kelahirannya, Mashhad, yang berada di wilayah timur Iran.
Pemerintah Iran hingga kini belum mengumumkan apakah Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus Khamenei, akan muncul dalam rangkaian upacara tersebut. Mojtaba dilaporkan mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayah, istri, dan sejumlah kerabatnya dan belum terlihat di depan publik sejak saat itu.
Baca Juga:
Ketegangan AS-Iran Kembali Membara Lewat 'Mulut Pedas' Trump
Perlawanan terhadap musuh asing telah lama menjadi bagian penting dari ideologi Republik Islam Iran selama hampir lima dekade terakhir. Negara itu lahir dari Revolusi Islam 1979 yang bernuansa anti-Barat dan kemudian memperkuat kekuasaannya melalui perang delapan tahun melawan Irak.
Tokoh senior Iran sekaligus kepala negosiator saat ini, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut pemakaman tersebut sebagai pembaruan sumpah bangsa terhadap jalan para syuhada. Ia juga mengatakan prosesi itu menjadi pengingat atas nilai-nilai Revolusi Islam yang menjadi fondasi negara.
Di Teheran, berbagai poster besar bergambar Khamenei dipasang menjelang pemakaman. Sejumlah warga menyebut Khamenei akan dikenang karena gaya hidup sederhana serta upayanya memperkuat kedaulatan dan kemampuan militer dalam negeri Iran.