WAHANANEWS.CO, Jakarta - Senator Kanada asal British Columbia, Yuen Pau Woo, menegaskan bahwa hubungan antara Kanada dan Indonesia memiliki nilai strategis yang semakin penting di tengah dinamika global saat ini.
Ia menyoroti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Kanada (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement/ICA-CEPA) sebagai fondasi utama dalam memperkuat kerja sama kedua negara ke depan.
Baca Juga:
Indonesia dan Kanada Tanda Tangani ICA-CEPA, Awal Babak Baru Perdagangan Indonesia dengan Amerika Utara
Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung Senat Kanada, Ottawa, Pau Woo menyampaikan bahwa kemitraan yang dibangun tidak hanya terbatas pada sektor perdagangan.
Menurutnya, kerja sama tersebut mencerminkan langkah strategis Kanada dalam menata ulang posisinya di dunia yang kini tidak lagi berpusat pada satu kekuatan global.
Ia menjelaskan bahwa Kanada perlu memperluas dan mendiversifikasi hubungan ekonominya, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
Kolaborasi PLN dan YBM Hadirkan Sambungan Listrik Gratis bagi Warga Garut
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai sebagai mitra prioritas yang memiliki potensi besar.
"Perjanjian ini bukan hanya tentang perdagangan. Ini tentang bagaimana Kanada memposisikan diri di dunia yang tidak lagi terorganisasi di sekitar satu pusat kekuasaan. Sejauh Kanada berupaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya di luar Amerika Serikat, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara merupakan pasar prioritas," kata Yuen Pau Woo, seperti dikutip dari rilis Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Jumat 24 April 2026.
Lebih lanjut, Pau Woo menekankan bahwa Indonesia bukan sekadar negara berkembang biasa, melainkan memiliki rekam jejak panjang sebagai kekuatan besar di Asia Tenggara sejak berabad-abad lalu.
Ia menilai posisi strategis Indonesia tersebut tetap relevan hingga saat ini, bahkan semakin menguat di tengah perubahan geopolitik global.
Secara geografis, Indonesia berada di persimpangan dua samudra besar, yakni Samudra Hindia dan Pasifik.
Letak ini menjadikan Indonesia memiliki peran vital dalam jalur perdagangan internasional.
Salah satu titik krusial yang disorot adalah Selat Malaka, yang disebut sebagai jalur perdagangan global yang sangat penting.
Menurut Pau Woo, peran Selat Malaka bahkan melampaui pentingnya Selat Hormuz dalam konteks tertentu, karena tidak hanya menjadi jalur distribusi energi, tetapi juga lalu lintas utama kapal kontainer dan kargo dunia.
"Jika Anda mengira blokade Selat Hormuz merupakan masalah bagi perekonomian dunia, bayangkan blokade Selat Malaka yang penting bukan hanya untuk jalur minyak dan gas, tetapi juga kapal kontainer dan kapal kargo curah," ujarnya.
Ia juga mengulas kiprah Indonesia dalam sejarah global sejak meraih kemerdekaan pada 1945.
Indonesia dinilai konsisten memainkan peran penting di panggung internasional, salah satunya melalui kepemimpinan dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara berkembang.
Selain itu, Indonesia merupakan salah satu pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 1965.
Meski ASEAN menganut prinsip konsensus, Indonesia kerap dipandang sebagai pemimpin tidak resmi organisasi tersebut, terlebih dengan keberadaan Sekretariat ASEAN di Jakarta.
Dalam konteks kekinian, Pau Woo melihat peran Indonesia akan semakin meningkat, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat pengaruhnya di tingkat global.
"Dan di bawah Presiden Prabowo Subianto, tampaknya negara ini siap memainkan peran yang lebih penting lagi di tahun-tahun mendatang. Indonesia menjadi anggota penuh BRICS pada tahun 2025, dan merupakan satu-satunya anggota tetap G20 dari Asia Tenggara," ucap Pau Woo.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]