WAHANANEWS.CO - Isu soal “tombol nuklir” kembali memanas setelah klaim viral menyebut Presiden AS meminta akses kode nuklir, namun faktanya prosedur penggunaan senjata nuklir jauh lebih kompleks dan tidak bisa dilakukan sepihak.
Kabar viral menyebut Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Dan Caine menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengakses peluncuran bom nuklir.
Baca Juga:
KAI Kecam Ucapan Kasar Advokat ke Wartawan, Kak Mia: Officium Nobile Wajib Jaga Etika
Gedung Putih langsung membantah isu tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada permintaan kode nuklir dalam rapat terkait perang Iran pada Sabtu (18/4/2026).
Klaim tersebut diketahui berasal dari pernyataan mantan perwira CIA, Larry Johnson, dalam podcast "Judging Freedom" pada Senin (20/4/2026).
Dalam sistem di Amerika Serikat, Presiden memang memiliki kewenangan untuk memerintahkan penggunaan senjata nuklir, namun tidak berarti dapat langsung menekan “tombol nuklir” secara sepihak.
Baca Juga:
Garuda Pimpin Holding Maskapai BUMN, Danantara Ingin Kuasai Pangsa Pasar Penerbangan
Sebelum keputusan diambil, Presiden harus terlebih dahulu menggelar konferensi dengan para penasihat militer dan sipil untuk memastikan bahwa perintah tersebut sesuai dengan hukum humaniter internasional.
Untuk memverifikasi perintah, seorang perwira senior di ruang komando akan memberikan “kode tantangan” berupa kombinasi huruf fonetik militer.
Presiden kemudian harus mengonfirmasi identitasnya dengan menjawab menggunakan “Kode Emas” melalui perangkat khusus yang dikenal sebagai “biskuit”.