WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat mendadak memadatkan kekuatan lautnya di Timur Tengah hingga mencapai sepuluh kapal perang, memberi Presiden AS Donald Trump opsi daya gempur besar jika eskalasi dengan Iran berubah menjadi serangan terbuka pada Rabu (28/1/2026).
Mengutip laporan AFP pada Rabu (28/1/2026), penambahan armada ini membuat konsentrasi kekuatan militer AS di Timur Tengah nyaris menyamai pengerahan besar Washington ke kawasan Karibia saat operasi rahasia untuk memburu pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.
Baca Juga:
Bocah Palestina Meninggal Akibat Serangan Jantung saat Lari dari Kejaran Tentara Israel
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan, dari total sepuluh kapal yang kini beroperasi di kawasan, termasuk di dalamnya gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang diperkuat tiga kapal perusak serta pesawat tempur siluman F-35C.
“Siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu,” tulis Presiden Donald Trump dalam unggahan di platform Truth Social, dikutip pada Rabu (28/1/2026).
Selain gugus tempur USS Abraham Lincoln, enam kapal perang Amerika Serikat lainnya juga dikerahkan di Timur Tengah yang terdiri atas tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir.
Baca Juga:
Kunjungi Mitra di Indonesia, AS Bahas Upaya Memajukan Transisi Energi
“Waktu hampir habis,” lanjut Trump dalam pernyataan yang sama, sembari mendesak Teheran agar segera mencapai kesepakatan.
Pengerahan kapal induk AS beserta kapal-kapal pendukungnya berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan domestik di Iran yang dipicu gelombang protes akibat tekanan ekonomi pada Senin (26/1/2026).
Aksi protes tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan massa yang menentang sistem teokrasi Iran dan direspons pemerintah dengan tindakan keras yang berujung pada kekerasan mematikan.
Menanggapi ancaman Washington, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan sikap resminya melalui unggahan di platform X pada Selasa (27/1/2026).
Iran menyatakan tetap terbuka untuk berdialog, namun menegaskan akan membela diri dan memberikan respons terbesar jika wilayahnya diserang.
Di sisi lain, pasukan Iran sebelumnya memperlihatkan kekuatan militernya melalui latihan penembakan rudal di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz pada Sabtu (31/12/2022), wilayah yang kini kembali menjadi titik panas dalam ketegangan AS-Iran.
Trump sendiri beberapa kali memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran di dalam negeri Iran.
Presiden ke-47 Amerika Serikat itu bahkan secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, seraya menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Pada awal Januari, Trump sempat menarik kembali perintah serangan terhadap Iran dengan alasan tekanan Washington telah menghentikan lebih dari 800 eksekusi yang direncanakan oleh Teheran.
Namun dalam beberapa hari terakhir, ancaman kembali dilontarkan dari Gedung Putih seiring meningkatnya eskalasi politik dan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]