WAHANANEWS.CO - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Washington agar tidak melanjutkan serangan terhadap negaranya, seraya menegaskan bahwa AS akan menghadapi "Iran yang berbeda" jika agresi terus berlanjut.
Peringatan tersebut disampaikan Ghalibaf melalui akun media sosial X pada Jumat (12/6/2026), menyusul eskalasi konflik yang kembali terjadi antara kedua negara.
Baca Juga:
Munas HIPMI XVIII: Sinergi Pengusaha Muda Membangun Kekuatan Ekonomi Nasional
Dalam pernyataannya, Ghalibaf meminta Amerika Serikat tidak melancarkan gelombang serangan baru maupun menargetkan infrastruktur energi Iran.
Ia juga mengklaim operasi balasan yang dilakukan Teheran telah membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada dalam posisi sulit.
"Strategi yang salah dan keputusan impulsif akan mengubah seluruh situasi menjadi lebih buruk, meledakkan infrastruktur dan pasar energi, dan menciptakan rawa tak berujung akan membuat Anda terjebak selama bertahun-tahun," kata Ghalibaf.
Baca Juga:
Kebakaran Motor Gegerkan Jalan Pajajaran Bogor, Diduga Berasal dari Mesin
"Anda akan melihat Iran yang berbeda," tegasnya.
Menurut Ghalibaf, eskalasi konflik yang terus berlangsung berpotensi mengguncang pasar energi global, merusak infrastruktur strategis, serta memicu krisis berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Ghalibaf juga telah menegaskan bahwa setiap bentuk agresi terhadap Iran akan dibalas secara cepat dan tegas oleh negaranya.
"Perang yang dipaksakan, yang pertama, kedua, dan ketiga, telah menunjukkan kepada dunia bahwa jalan menuju kemenangan dan kejayaan melewati keteguhan dan pengorbanan," ujarnya.
Peringatan terbaru dari Teheran muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya memerintahkan serangan baru terhadap Iran meski gencatan senjata yang rapuh masih berlaku sejak April lalu.
Dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Fox News, Trump menyebut militer AS meluncurkan 49 rudal Tomahawk dalam operasi terbaru yang menargetkan Iran.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran dilaporkan meluncurkan puluhan rudal dan pesawat nirawak atau drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Konflik yang terus meningkat antara kedua negara tersebut kembali memunculkan kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah serta dampaknya terhadap perekonomian global, khususnya sektor energi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]