"Sepanjang pemerintahan generasi ketiga, Korea Utara telah menggelar acara-acara seperti itu untuk memamerkan sebuah prosedur dalam upaya mencapai legitimasi politik," katanya.
Dalam pemilihan kali ini, sebanyak 687 deputi terpilih menjadi anggota Majelis Rakyat Tertinggi, dengan warga berusia di atas 17 tahun hanya diberikan pilihan menyetujui atau menolak satu kandidat tunggal yang diajukan partai berkuasa.
Baca Juga:
Tahanan Rumah Yaqut Picu Tanda Tanya Besar, Ada Apa di Balik KPK?
Hasilnya, Kim memperoleh dukungan nyaris mutlak dengan 99,93 persen suara setuju dan hanya 0,07 persen menolak, serta tingkat partisipasi mencapai 99,99 persen.
"Aula pertemuan Pyongyang dipenuhi dengan kesadaran politik yang luar biasa dan antusiasme revolusioner dari para anggota yang baru terpilih," demikian pernyataan resmi KCNA.
Foto-foto yang dirilis menunjukkan Kim duduk di tengah panggung mengenakan setelan jas formal, diapit pejabat tinggi negara dengan latar patung raksasa Kim Jong Il dan Kim Il Sung.
Baca Juga:
Harga Minyak Melonjak dan Ekonomi Terancam, Ini Peringatan Serius dari IEA
Para analis menilai sidang parlemen kali ini juga berpotensi membahas amandemen konstitusi, termasuk kemungkinan penegasan hubungan Korea Utara dan Korea Selatan sebagai dua negara yang bermusuhan secara resmi.
Bahasa yang digunakan Kim dalam pidatonya di forum tersebut disebut akan menjadi indikator arah kebijakan Pyongyang ke depan, terutama terkait dinamika hubungan antar-Korea.
Sidang ini merupakan kelanjutan dari pertemuan lima tahunan partai berkuasa yang digelar sebelumnya, yang turut memperkuat arah kebijakan strategis negara tersebut.