WAHANANEWS.CO, Jakarta – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni 2026 terus menimbulkan dampak serius.
Selain mengganggu aktivitas masyarakat, fenomena cuaca ekstrem tersebut juga menyebabkan meningkatnya angka kematian, terutama di kalangan lanjut usia.
Baca Juga:
Eropa Dilanda Suhu Rekor pada Juni 2026, Puluhan Orang Dilaporkan Meninggal
Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih (excess deaths) yang diduga berkaitan dengan suhu panas yang melanda negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Melansir Al Jazeera, badan kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Prancis itu menyebut jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.
Pasalnya, laporan kematian dari rumah-rumah warga maupun fasilitas perawatan lansia masih terus dikumpulkan dan diverifikasi.
Baca Juga:
Restorasi Mangrove Pantai Tanah Merah, MARTABAT Prabowo-Gibran: IKN Wajib Tumbuh dengan Etika Ekologi
Sebagian besar korban diketahui merupakan warga lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.
Meski demikian, dampak gelombang panas ekstrem dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang beraktivitas di luar ruangan.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan efek gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung hingga 10 hari ke depan.
Gelombang panas yang melanda kawasan Eropa sejak 20 Juni 2026 telah mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.
Sejumlah sekolah, museum, serta berbagai fasilitas umum di beberapa negara terpaksa mengurangi jam operasional bahkan ditutup sementara karena suhu udara yang sangat tinggi demi menjaga keselamatan masyarakat.
Berdasarkan perkiraan AFP, sedikitnya 191 juta penduduk Eropa diperkirakan menghadapi suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih.
Wilayah yang diprediksi mengalami kondisi terpanas meliputi Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria, hingga Ukraina bagian barat.
Di Prancis sendiri, sebagian besar wilayah mulai mengalami penurunan suhu.
Namun demikian, badan meteorologi setempat masih menetapkan status peringatan gelombang panas di sejumlah kawasan timur laut karena suhu udara masih berada di atas ambang normal.
Sementara itu, gelombang panas kini mulai bergeser ke kawasan Eropa Timur.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut juga membawa dampak lain di Jerman, yakni meningkatnya jumlah kecelakaan di perairan akibat banyak warga mencari tempat yang lebih sejuk.
Berdasarkan laporan kantor berita DPA, sedikitnya tujuh orang meninggal dunia akibat insiden tenggelam yang terjadi sepanjang akhir pekan.
Banyak warga diketahui memadati danau maupun sungai untuk menghindari suhu panas yang menyengat.
Otoritas Jerman mencatat sedikitnya dua korban meninggal dunia dalam insiden terpisah di Berlin.
Sementara dalam kasus lainnya, seorang pria ditemukan tidak sadarkan diri di Danau Jungfernheideteich setelah ditemukan oleh sekelompok warga.
Dalam beberapa hari terakhir, Jerman mengalami suhu ekstrem yang mencapai bahkan melampaui 40 derajat Celsius.
Layanan meteorologi setempat juga mencatat suhu malam hari di Kubschuetz tidak turun di bawah 29,4 derajat Celsius, sehingga masyarakat tetap merasakan hawa panas meski memasuki malam.
Pada Sabtu, 27 Juni 2026, rekor suhu tertinggi sepanjang masa juga tercatat di Jerman, Denmark, dan Republik Ceko.
Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini diperparah oleh perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Selain dipengaruhi perubahan iklim, fenomena cuaca ekstrem tersebut juga berkaitan dengan pola cuaca Omega block, yakni kondisi atmosfer yang menyebabkan massa udara panas terperangkap di suatu wilayah dalam waktu lama.
Akibatnya, suhu tinggi bertahan selama berhari-hari dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, kebakaran hutan, hingga bertambahnya angka kematian di berbagai negara Eropa.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]