WAHANANEWS.CO Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya membawa kemajuan di berbagai sektor, tetapi juga memunculkan tantangan baru di tingkat global.
Selain menyebabkan lonjakan permintaan chip memori yang memicu kelangkaan pasokan dan kenaikan harga perangkat elektronik seperti ponsel, laptop, hingga konsol gim, ekspansi AI kini juga mulai memberikan tekanan besar terhadap kebutuhan energi listrik.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Listrik Saat Kemarau, ALPERKLINAS Dorong PLN Pantau Seluruh PLTA
Fenomena tersebut paling terasa di Amerika Serikat, terutama di wilayah yang menjadi pusat pembangunan data center AI berskala besar.
Meningkatnya konsumsi listrik dari fasilitas-fasilitas tersebut menyebabkan tarif energi mengalami kenaikan, sehingga berdampak langsung terhadap sektor industri manufaktur.
Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Sugarcreek, Ohio, sebuah desa yang dikenal sebagai "Swiss Kecil Ohio".
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Kunjungi Polres Sarolangun, Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Layanan Masyarakat
Daerah ini mengalami lonjakan tarif listrik seiring meningkatnya kebutuhan energi untuk mengoperasikan pusat data AI.
Belden Brick Company, pabrik bata swasta terbesar di Amerika Serikat, menjadi salah satu perusahaan yang terkena dampak paling signifikan.
Perusahaan yang telah berdiri selama 141 tahun itu mengungkapkan bahwa biaya listrik mereka meningkat drastis sepanjang tahun lalu.
Dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026), tagihan listrik bulanan Belden Brick melonjak dari sekitar US$1.600 atau sekitar Rp28 juta menjadi US$12.000 atau sekitar Rp216 juta.
Secara keseluruhan, tarif listrik perusahaan tersebut meningkat hingga 90% dalam setahun.
Belden Brick hanyalah salah satu dari banyak perusahaan manufaktur di Amerika Serikat yang kini menghadapi tekanan biaya operasional akibat pertumbuhan pesat industri data center berbasis AI.
Berdasarkan kajian Reuters terhadap data sektor energi serta hasil wawancara dengan puluhan pelaku industri dan advokat manufaktur, kenaikan tarif listrik yang dialami pabrik berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan tarif listrik rumah tangga maupun sektor bisnis lainnya.
Kondisi tersebut memicu keluhan dari berbagai kalangan kepada pemerintah federal, pemerintah negara bagian, hingga pemerintah daerah.
Selain persoalan kenaikan biaya listrik, muncul pula kekhawatiran mengenai kemampuan jaringan listrik nasional dalam memenuhi lonjakan permintaan energi di masa mendatang.
Sebagai respons, pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan teknologi besar agar menanggung porsi biaya listrik yang lebih besar sesuai dengan kebutuhan energi mereka.
Namun, sejumlah usulan kebijakan dinilai masih berpotensi memberatkan industri manufaktur karena menyamaratakan beban antara perusahaan manufaktur dengan perusahaan teknologi raksasa seperti Meta dan Amazon.
Padahal, kebutuhan listrik perusahaan teknologi tersebut diperkirakan dapat mencapai hingga 50 kali lipat dibandingkan kebutuhan perusahaan manufaktur besar.
Lembaga Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa data center akan menjadi sektor dengan pertumbuhan konsumsi listrik terbesar di Amerika Serikat selama periode 2025 hingga 2030.
Konsumsi listrik data center diperkirakan mencapai 203,4 terawatt-hours (TWh), jauh melampaui sektor industri yang diproyeksikan mengonsumsi 62,6 TWh.
Setelah sektor industri, kebutuhan listrik terbesar berikutnya berasal dari sektor transportasi sebesar 58,5 TWh, penggunaan heat pump sebesar 37,8 TWh, pendingin ruangan 28 TWh, gedung lainnya 22,8 TWh, serta sektor-sektor lain yang secara keseluruhan mencapai 12,9 TWh.
Hingga kini Meta menolak memberikan komentar terkait persoalan tersebut, sementara Amazon tidak memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi Reuters.
Para analis kebijakan menilai bahwa tingginya tarif listrik dan ketidakpastian regulasi dapat mengancam masa depan sektor manufaktur Amerika Serikat.
Situasi ini juga dinilai berpotensi menghambat ambisi Presiden AS Donald Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur domestik.
Jika kondisi terus berlanjut, banyak perusahaan diperkirakan akan mengambil langkah-langkah penyesuaian, mulai dari menaikkan harga produk, memperlambat ekspansi usaha, hingga mempertimbangkan relokasi fasilitas produksi ke wilayah dengan biaya energi yang lebih rendah.
Belden Brick sendiri telah menaikkan harga jual bata sebesar 4%. Meski demikian, perusahaan mengakui keuntungan yang diperoleh tetap mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya operasional.
Jika tarif listrik terus mengalami kenaikan, banyak pabrik lokal diperkirakan akan mencapai batas kemampuan dalam melakukan efisiensi biaya maupun menaikkan harga produk.
"Akan ada perusahaan-perusahaan yang berada di posisi sangat kritis," ujar Belden.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi beban industri manufaktur.
Salah satunya melalui fasilitasi penandatanganan "ikrar perlindungan bagi pelanggan listrik" oleh perusahaan-perusahaan teknologi pada awal tahun ini, serta mendorong pembangunan lebih banyak pembangkit listrik di wilayah PJM yang pembiayaannya berasal dari perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.
Di sisi lain, para pendukung industri data center berpendapat bahwa ekspansi AI justru mendorong investasi yang selama bertahun-tahun tertunda pada jaringan kelistrikan Amerika Serikat.
Mereka juga menilai kenaikan tarif listrik tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan data center, tetapi juga dipengaruhi oleh penutupan sejumlah pembangkit listrik dan terbatasnya kapasitas jaringan transmisi.
"Pertumbuhan data center 'membuat kita akhirnya harus bergulat dengan keputusan-keputusan sulit yang memang mau tidak mau harus kita hadapi'," ujar Aaron Tinjum, Wakil Presiden bidang Energi di Data Center Coalition, sebuah asosiasi industri.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]