WAHANANEWS.CO - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menilai dunia kini menjadi tempat yang semakin berbahaya, namun menegaskan Moskow tidak memiliki keinginan untuk terseret ke dalam konflik global.
Medvedev yang pernah menjabat sebagai Presiden Rusia pada periode 2008–2012, saat ini merupakan pejabat keamanan senior Kremlin dan menduduki posisi Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, sebuah badan elite yang beranggotakan para pejabat paling berpengaruh di Kremlin dan dipimpin langsung oleh Presiden Vladimir Putin.
Baca Juga:
Rusia Peringatkan NATO, Pengerahan Pasukan ke Greenland Picu Ketegangan Arktik
Pernyataan terbaru Medvedev tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara dengan sejumlah media, termasuk Reuters, kantor berita TASS, serta blogger perang Rusia WarGonzo, yang dilakukan di kediamannya di luar Moskow dan dipublikasikan pada Senin (2/2/2026).
"Situasinya sangat berbahaya," kata Medvedev dalam wawancara yang dirilis pada Senin (2/2) waktu setempat.
"Ambang batas rasa sakit tampaknya semakin menurun," tambahnya.
Baca Juga:
Militer Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 AS
Medvedev menegaskan bahwa Rusia tidak tertarik pada pecahnya konflik berskala global.
"Kami tidak tertarik pada konflik global. Kami tidak gila. Itu sudah dikatakan ratusan kali. Siapa yang membutuhkan konflik global?" ucap Medvedev.
Meski demikian, dia mengakui kemungkinan terburuk tetap ada.
"Sayangnya, konflik global tidak dapat dikesampingkan," imbuh sekutu dekat Putin tersebut.
Komentar Medvedev ini muncul setelah invasi militer besar-besaran Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022 memicu konfrontasi paling serius antara Moskow dan negara-negara Barat sejak era Perang Dingin.
Dalam beberapa waktu terakhir, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah berupaya menegosiasikan diakhirinya perang antara Rusia dan Ukraina.
Medvedev sebelumnya sempat memuji Trump dan menyebut kelanjutan kontak antara Moskow dan Washington sebagai perkembangan yang menggembirakan.
Namun demikian, Medvedev yang kerap melontarkan kecaman keras terhadap Kyiv dan negara-negara Barat, serta berulang kali memperingatkan risiko eskalasi konflik menuju "kiamat" nuklir, juga menilai Barat telah berulang kali mengabaikan kepentingan Rusia.
Meskipun Presiden Vladimir Putin tetap menjadi penentu utama kebijakan Rusia, Medvedev yang kini dikenal sebagai tokoh garis keras dianggap mencerminkan pandangan keras di kalangan elite negara tersebut.
Saat ditanya mengenai berbagai gejolak global sepanjang Januari, mulai dari isu Venezuela hingga Greenland, Medvedev menyebut rangkaian peristiwa itu sebagai sesuatu yang "terlalu berlebihan".
Dia menilai klaim Barat mengenai ancaman Rusia atau China terhadap Greenland sebagai "kisah horor" palsu yang sengaja diciptakan oleh para pemimpin Barat untuk membenarkan tindakan mereka sendiri.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]