“Disepakati untuk melanjutkan dialog guna memajukan tujuan bersama dan menjaga keamanan minoritas Druze di Suriah,” demikian pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.
Suriah hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sementara kedua negara selama puluhan tahun terlibat konflik bersenjata dan sengketa wilayah Dataran Tinggi Golan.
Baca Juga:
Baru Dilantik, Zohran Mamdani Langsung Cabut Kebijakan Pro-Israel di New York
Damaskus juga kerap mengecam agresi militer Israel di Palestina yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Di bawah kepemimpinan Bashar Al Assad, Suriah dikenal sebagai sekutu dekat Iran dan menjadi bagian dari poros perlawanan terhadap Israel.
Assad lengser pada Desember 2024 setelah perlawanan milisi bersenjata yang dipimpin langsung Sharaa berhasil menggulingkan rezimnya.
Baca Juga:
Abaikan Gelombang Protes, AS Mantap Pasok F-15 ke Israel
Pasca runtuhnya Assad, Israel mengirim pasukan ke zona penyangga yang memisahkan wilayah Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan.
Dengan alasan kekosongan kekuasaan di Suriah, Israel juga secara sepihak menyatakan pembatalan perjanjian penarikan pasukan tahun 1974.
Sharaa berupaya memulihkan kesepakatan tersebut dan menghindari konflik yang lebih luas dengan Israel, meski tetap menolak desakan pemerintahan Netanyahu untuk mempertahankan zona demiliterisasi di Suriah selatan.