WAHANANEWS.CO, Jakarta - Musuh bebuyutan di Timur Tengah kini duduk di meja yang sama, setelah Amerika Serikat mengumumkan Suriah dan Israel sepakat membentuk tim gabungan demi mencegah perang terbuka.
Amerika Serikat menyatakan Suriah dan Israel akan membangun mekanisme koordinasi bersama di bawah pengawasan Gedung Putih untuk menekan eskalasi konflik yang selama ini kerap berujung bentrokan militer.
Baca Juga:
Baru Dilantik, Zohran Mamdani Langsung Cabut Kebijakan Pro-Israel di New York
Dalam rilis resmi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Israel dan Suriah disebut akan berbagi informasi intelijen serta menurunkan ketegangan militer di lapangan, Selasa (6/1/2025).
“Kedua belah pihak telah memutuskan membentuk mekanisme fusi bersama -- unit komunikasi khusus -- untuk memfasilitasi koordinasi segera dan berkelanjutan dalam hal berbagi intelijen, de-eskalasi militer, keterlibatan diplomatik, dan peluang komersial di bawah pengawasan Amerika Serikat,” demikian rilis Kementerian Luar Negeri AS yang dikutip AFP.
Mekanisme tersebut akan berfungsi sebagai platform komunikasi cepat untuk menyelesaikan perselisihan dan mencegah kesalahpahaman yang berpotensi memicu konflik terbuka.
Baca Juga:
Abaikan Gelombang Protes, AS Mantap Pasok F-15 ke Israel
Israel dan Suriah, lanjut pernyataan tersebut, juga telah menyatakan komitmen untuk mencapai pengaturan keamanan dan stabilitas jangka panjang di perbatasan kedua negara.
Namun demikian, rilis itu tidak menyebut adanya komitmen Israel untuk menghentikan serangan lanjutan atau memulihkan kesepakatan lama yang sebelumnya pernah berlaku.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong kerja sama ekonomi dengan Suriah demi stabilitas dan keamanan kawasan.
“Disepakati untuk melanjutkan dialog guna memajukan tujuan bersama dan menjaga keamanan minoritas Druze di Suriah,” demikian pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.
Suriah hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sementara kedua negara selama puluhan tahun terlibat konflik bersenjata dan sengketa wilayah Dataran Tinggi Golan.
Damaskus juga kerap mengecam agresi militer Israel di Palestina yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Di bawah kepemimpinan Bashar Al Assad, Suriah dikenal sebagai sekutu dekat Iran dan menjadi bagian dari poros perlawanan terhadap Israel.
Assad lengser pada Desember 2024 setelah perlawanan milisi bersenjata yang dipimpin langsung Sharaa berhasil menggulingkan rezimnya.
Pasca runtuhnya Assad, Israel mengirim pasukan ke zona penyangga yang memisahkan wilayah Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan.
Dengan alasan kekosongan kekuasaan di Suriah, Israel juga secara sepihak menyatakan pembatalan perjanjian penarikan pasukan tahun 1974.
Sharaa berupaya memulihkan kesepakatan tersebut dan menghindari konflik yang lebih luas dengan Israel, meski tetap menolak desakan pemerintahan Netanyahu untuk mempertahankan zona demiliterisasi di Suriah selatan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]