WAHANANEWS.CO, Jakarta - Langit Venezuela berubah menjadi medan senyap ketika Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 150 pesawat tempur dalam operasi militer penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026).
Di antara armada udara itu, jet EA-18G Growler tampil menonjol sebagai senjata tak kasat mata yang dirancang khusus untuk mengacaukan, membutakan, dan melumpuhkan sistem lawan melalui peperangan elektronik.
Baca Juga:
Adu Mulut Berujung Peluru, Empat Personel Brimob Diamankan Polda Sultra
Dikutip dari laporan Wall Street Journal pada Selasa (6/1/2026), Boeing EA-18G Growler merupakan pesawat spesialis peperangan elektronik yang kini kembali menjadi pusat perhatian setelah lama dianggap sekunder dalam doktrin perang modern.
Bidang peperangan elektronik yang sebelumnya kerap terpinggirkan itu justru mengalami kebangkitan besar setelah digunakan secara masif dalam konflik Ukraina.
Growler yang dioperasikan skuadron Angkatan Laut Amerika Serikat dan dijuluki “Zappers” tersebut dinilai memainkan peran krusial dalam operasi militer di Venezuela.
Baca Juga:
Gus Alex Resmi Jadi Tersangka, KPK Buka Babak Baru Kasus Korupsi Haji
Pesawat ini mampu menembus sistem pertahanan udara Venezuela yang tergolong usang dan sebagian besar masih berbasis teknologi buatan Soviet serta Rusia.
Pertama kali dikirim ke satuan operasional pada 2008, Growler memiliki kemampuan jauh melampaui pesawat tempur konvensional.
Salah satu kemampuannya adalah mensimulasikan kehadiran banyak pesawat sekaligus di layar radar musuh dengan cara mengambil pulsa radar lawan lalu memantulkannya kembali dalam bentuk sinyal palsu.
Growler juga dipersenjatai rudal anti-radiasi yang dirancang untuk mendeteksi, mengunci, dan menghancurkan radar musuh secara langsung.
Selain itu, badan pesawat dipenuhi peralatan peperangan elektronik yang sebagian besar dibawa dalam pod besar di bawah sayap dan bagian perut pesawat.
Pesawat ini dioperasikan oleh dua awak, dengan satu personel khusus bertugas sebagai ahli peperangan elektronik.
Pada 2021, harga satu unit Growler diperkirakan mencapai 67 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 1,1 triliun.
“Meski Amerika Serikat bisa dengan mudah terbang masuk ke wilayah Venezuela, operasi ini dilakukan terhadap lawan dengan sistem pertahanan udara yang terbatas,” ujar analis pertahanan Agency Partners, Nick Cunningham.
Namun demikian, ia menilai pendekatan serupa belum tentu efektif jika diterapkan terhadap negara dengan kemampuan militer setara dan persenjataan canggih seperti Rusia atau China.
Peperangan elektronik sejatinya bukan konsep baru, karena Angkatan Laut Inggris telah melakukan pengacauan dan penyadapan komunikasi radio sejak awal abad ke-20.
Bagi Amerika Serikat, konflik di Afghanistan dan Timur Tengah selama dua dekade terakhir relatif minim membutuhkan peperangan elektronik skala besar.
Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa Pentagon mulai mengabaikan bidang strategis ini.
Situasi berubah drastis ketika perang Ukraina pecah dan secara luas dianggap sebagai konflik peperangan elektronik terbesar dalam sejarah modern.
Sejak saat itu, militer Amerika Serikat mempercepat upaya pengembangan dan modernisasi kemampuan peperangan elektroniknya.
Di Ukraina, penggunaan drone secara masif membuka peluang luas untuk mengacaukan, memalsukan, dan memanipulasi sinyal komunikasi serta navigasi.
Rusia disebut telah mengembangkan keahlian khusus dalam bidang ini dan bahkan mampu mengganggu sistem buatan Amerika Serikat seperti HIMARS.
Gangguan tersebut dilakukan dengan cara sederhana namun efektif, yakni membombardir drone atau roket dengan sinyal pengacau yang memutus koneksi ke operator atau panduan satelit.
Meski begitu, hampir semua pesawat tempur modern kini telah dilengkapi sistem peperangan elektronik, terutama untuk menjaga komunikasi internal mereka tetap aman.
Peperangan elektronik kini menjelma menjadi salah satu sektor paling menguntungkan dalam industri pertahanan global.
Perusahaan Eropa MBDA, misalnya, memasarkan rudal khusus yang dirancang untuk mengacaukan komunikasi dan radar musuh.
Berbagai perusahaan juga mengembangkan umpan elektronik yang ditarik di belakang pesawat atau kapal dan memancarkan sinyal menyerupai rudal agar musuh salah sasaran.
Untuk mengatasi ancaman gangguan sinyal, militer mulai mengadopsi komunikasi berbasis laser jika memungkinkan.
Di sisi lain, Rusia dan Ukraina masih mengandalkan metode konvensional dengan menghubungkan sebagian drone mereka menggunakan kabel serat optik.
Perkembangan kecerdasan buatan kini membuka babak baru dan peluang lebih luas dalam evolusi peperangan elektronik global.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].