WAHANANEWS.CO, Jakarta - Prancis mulai menghitung korban sebenarnya dari gelombang panas Eropa, ketika sekitar 1.000 kematian tambahan tercatat hanya dalam beberapa hari dan rumah duka di Paris mulai kewalahan.
Eropa dilanda gelombang panas ekstrem selama beberapa pekan terakhir.
Baca Juga:
KPK Dalami Kasus Dugaan Pemerasan Abdul Wahid, Bupati Inhu Ikut Dipanggil
Gelombang panas yang datang lebih awal pada musim panas 2026 itu berlangsung intens dan berkepanjangan.
Kondisi tersebut membuat warga di berbagai negara mengalami kepanasan, sulit tidur, hingga menghadapi risiko gangguan kesehatan serius.
Di Paris, Prancis, warga sempat merasakan sedikit kelegaan pada akhir pekan lalu setelah badai petir dan angin yang lebih sejuk menurunkan suhu ke tingkat yang lebih nyaman.
Baca Juga:
Eropa Dipanggang Panas Ekstrem, Pakar Ungkap Biang Kerok yang Bikin Korban Berjatuhan
Namun, penurunan suhu itu belum menghapus dampak besar yang ditinggalkan gelombang panas terhadap keselamatan warga.
Dampak sebenarnya terhadap korban jiwa justru mulai terlihat setelah otoritas kesehatan merilis data awal.
Badan kesehatan nasional Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari perkiraan sejak Rabu (24/6/2026).