Lonjakan korban meninggal membuat rumah duka dan kamar jenazah di Prancis ikut tertekan.
Ketua Federasi Pemakaman Nasional Prancis menyebut tingkat keterisian rumah duka telah melampaui 66 persen secara nasional.
Baca Juga:
Danantara Tutup 290 BUMN, Rosan Targetkan Cuma Tersisa 300 Perusahaan
Angka itu meningkat tajam dibandingkan kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 30 hingga 45 persen.
Di pusat Kota Paris, dua rumah duka bahkan dilaporkan telah mencapai kapasitas penuh sejak Jumat (26/6/2026).
Situasi tersebut memperlihatkan tekanan besar yang dialami layanan pemakaman akibat lonjakan kematian selama gelombang panas.
Baca Juga:
Sambut HUT Kemerdekaan RI ke-81, SDN 030325 Simanduma Gelar Berbagai Lomba
Pengamat iklim Prancis menilai gelombang panas kali ini bukan sekadar peristiwa cuaca ekstrem biasa.
“Yang paling berbahaya dari gelombang panas bukan hanya suhu siang hari yang tinggi, tetapi panas yang bertahan pada malam hari dan membuat tubuh kelompok rentan tidak punya waktu untuk pulih,” ujar pengamat iklim Prancis tersebut.
Menurutnya, pemerintah perlu memperlakukan gelombang panas sebagai ancaman kesehatan publik yang membutuhkan sistem peringatan, perlindungan lansia, dan kesiapan layanan darurat secara lebih agresif.