WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kremlin menegaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tetap membuka peluang untuk melanjutkan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah dinamika hubungan kedua negara.
Meski demikian, rencana komunikasi langsung melalui sambungan telepon yang sempat diharapkan belum dapat terlaksana karena padatnya agenda Presiden AS.
Baca Juga:
Dari Rencana Gagal Bertemu Trump ke Isu Keretakan Putin–Lavrov
Dilansir dari Anadolu, Jumat (10/7/2026), Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menjelaskan bahwa Trump memiliki jadwal yang sangat padat usai menghadiri berbagai agenda dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO ke-36 yang berlangsung di Ankara, Turki.
Kondisi tersebut membuat pembicaraan melalui sambungan telepon antara kedua pemimpin belum dapat dilakukan pada hari sebelumnya.
Sebelumnya, Putin dan Trump diketahui telah melakukan pembicaraan melalui telepon pada akhir pekan lalu.
Baca Juga:
Kremlin Tegaskan Rusia Kini dalam Status Perang dengan NATO
Menurut Kremlin, kedua pemimpin sama-sama memahami bahwa komunikasi di antara mereka akan terus berlanjut dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya menjaga jalur dialog tetap terbuka.
Peskov menegaskan bahwa hubungan komunikasi antara Putin dan Trump selama ini berlangsung secara positif meskipun keduanya memiliki sejumlah perbedaan pandangan dalam berbagai isu internasional.
"Putin selalu senang berbicara dengan Trump dan komunikasi keduanya bersifat konstruktif meskipun terdapat perbedaan pandangan. Ia kembali menekankan bahwa Putin terbuka untuk berdialog."
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump menggelar pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di sela-sela KTT NATO di Ankara.
Pertemuan itu menjadi sorotan karena membahas perkembangan terbaru konflik Rusia-Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Dalam kesempatan tersebut, Trump menyampaikan bahwa baik Putin maupun Zelenskyy memiliki keinginan yang sama untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Selain itu, Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat siap memberikan perlindungan terhadap wilayah udara Ukraina apabila diperlukan sebagai bagian dari jaminan keamanan.
Ia turut menyebut bahwa salah satu topik pembahasannya bersama Zelenskyy adalah kemungkinan pemberian lisensi kepada Kyiv untuk memproduksi rudal pertahanan udara Patriot.
Menanggapi pernyataan tersebut, Peskov mengatakan bahwa Washington hingga kini tetap melanjutkan pasokan persenjataan dan teknologi militer kepada Ukraina.
Menurutnya, Moskow memahami kondisi tersebut sehingga tidak menaruh optimisme yang berlebihan terhadap perkembangan situasi.
Meski demikian, Peskov menilai Amerika Serikat masih berupaya memainkan peran dalam memfasilitasi proses perdamaian.
Ia juga menyoroti adanya dualitas dalam sikap Washington terhadap konflik Ukraina, yakni di satu sisi mendukung upaya diplomasi, namun di sisi lain tetap memberikan bantuan militer kepada Kyiv.
Peskov juga membantah anggapan bahwa pernyataan Trump menandakan Amerika Serikat kembali memilih jalur eskalasi terhadap Rusia.
Menurutnya, Moskow justru melihat masih adanya kesalahpahaman di Gedung Putih mengenai kemungkinan mengakhiri konflik melalui peningkatan tekanan militer terhadap Rusia.
Lebih lanjut, Peskov memperingatkan bahwa setiap langkah yang berpotensi meningkatkan eskalasi hanya akan memperpanjang konflik di Ukraina.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut bahkan dapat mendorong Rusia untuk memperluas zona penyangga demi kepentingan keamanannya.
Menurut Peskov, peningkatan ketegangan maupun berbagai tindakan yang bersifat eskalatif tidak akan memberikan kontribusi positif terhadap proses perdamaian.
Karena itu, Kremlin tetap menilai bahwa dialog dan komunikasi antarpihak merupakan jalan yang lebih efektif untuk mencari penyelesaian konflik secara damai.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]