WAHANANEWS.CO, Jakarta - Suasana Salat Id di Sydney mendadak ricuh ketika Perdana Menteri Australia Anthony Albanese disoraki jemaah di dalam masjid, memicu sorotan tajam atas sikap pemerintahnya terkait konflik Israel-Palestina.
Insiden tersebut terjadi saat Albanese bersama Menteri Dalam Negeri Tony Burke menghadiri Salat Id di Masjid Lakemba, Sydney, pada Jumat (20/3/2026).
Baca Juga:
Meta Tutup Hampir 550 Ribu Akun Anak Setelah Aturan Ketat Australia Berlaku
Sejumlah jemaah meluapkan protes terhadap kebijakan Australia yang dinilai tidak konsisten dalam menyikapi konflik Israel dan Palestina.
Australia diketahui mengecam agresi militer Israel, namun di saat yang sama tetap mendukung hak Israel untuk melakukan serangan dengan alasan membela diri.
Aksi penolakan terhadap Albanese berlangsung sekitar 15 menit dan sempat membuat suasana di dalam masjid menjadi tidak kondusif.
Baca Juga:
Cuaca Ekstrem Picu Kebakaran Besar di Victoria dan New South Wales
“Saudara-saudari yang terkasih, tenangkan diri sedikit, ini Hari Raya Idul Fitri, ini hari yang penuh sukacita,” kata seorang petugas masjid.
Dalam aksi tersebut, sejumlah jemaah terdengar meneriakkan kata-kata seperti disgrace, shame on you, hingga genocide supporters kepada Albanese.
Beberapa jemaah juga meminta Albanese dan Tony Burke untuk meninggalkan area masjid.
Selain isu konflik Israel-Palestina, kemarahan jemaah juga dipicu oleh kebijakan pemerintah Australia yang melarang organisasi Hizb ut-Tahrir.
Pelarangan tersebut dilakukan beberapa pekan sebelumnya dengan alasan organisasi itu dianggap menimbulkan ancaman keamanan.
Hizb ut-Tahrir disebut sebagai kelompok radikal yang menentang negara-negara Barat.
Organisasi tersebut juga dikaitkan dengan serangan teror di Pantai Bondi pada Desember 2025 yang menewaskan sekitar 15 orang.
Meski sempat memanas, situasi di masjid akhirnya berhasil dikendalikan oleh petugas dan komunitas setempat.
Albanese menyatakan bahwa insiden tersebut tidak berlangsung lama dan segera ditangani.
“Saya berjalan menembus kerumunan menuju masjid dan tidak seorang pun mencemooh, sebetulnya ada beberapa pencemooh di dalam, namun mereka sudah ditangani,” jelas Albanese.
Ia juga membantah adanya tindakan pemaksaan terhadap jemaah yang melakukan protes.
“Bertentangan dengan apa yang telah disampaikan, tidak ada seorang pun yang dipaksa keluar, kami hanya duduk di sana, masalah itu ditangani oleh komunitas itu sendiri karena sebagian besar dari mereka tidak menginginkan hal itu terjadi,” lanjutnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]