WAHANANEWS.CO - Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan ancaman keras kepada negara-negara Eropa dengan mengatakan Moskow dapat menyita kapal-kapal milik mereka sebagai tindakan balasan atas rencana penjualan muatan kargo yang disita dari kapal-kapal yang disebut sebagai "armada bayangan" Rusia.
Sejumlah perusahaan Eropa sebelumnya mencegat kapal yang membawa minyak Rusia karena diduga melanggar sanksi Uni Eropa yang menargetkan salah satu sumber pendapatan penting bagi Moskow.
Baca Juga:
Putin Punya Sekolah Intelijen “Pelatihan Khusus” yang Bisa Atur Pemilu Negara Lain
Sanksi baru yang disahkan pada Juli 2026 memberikan kewenangan kepada negara-negara anggota Uni Eropa untuk menjual minyak maupun muatan kargo lain yang disita dari kapal-kapal yang berkaitan dengan Rusia.
Moskow langsung mengecam kebijakan tersebut dan menilai langkah negara-negara Eropa sebagai tindakan "pembajakan dan perampokan".
"Kami akan terpaksa membalas dengan tindakan serupa," kata Putin saat memantau latihan angkatan laut Rusia di wilayah Timur Jauh, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga:
Perang Rusia-Ukraina, Kim Jong Un Puji Aksi Bunuh Diri Tentara Korut
Putin menegaskan Rusia tidak akan membatasi lokasi tindakan balasan jika negara-negara Eropa tetap menjalankan kebijakan tersebut.
Putin mengatakan Moskow akan bertindak "di mana pun kami anggap perlu dan tepat -- di mana saja".
Dokumen pengadilan di Swedia yang diperoleh AFP pada awal Agustus 2026 menunjukkan Stockholm berencana menyerahkan sebuah kapal Rusia yang telah disita kepada Ukraina karena kapal tersebut diduga membawa biji-bijian dari wilayah Ukraina yang saat ini diduduki pasukan Rusia.
Ancaman Putin disampaikan saat dirinya berada di atas kapal penjelajah Rusia Varyag di lepas pantai Pulau Sakhalin, lokasi Angkatan Laut Rusia menggelar latihan militer.
Latihan militer Rusia tersebut berlangsung sekitar sepekan sebelum Amerika Serikat dan Korea Selatan menggelar latihan militer gabungan yang dirancang untuk menyimulasikan kemungkinan invasi Korea Utara.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat di tengah tuduhan dari Kyiv dan Seoul bahwa Moskow dan Pyongyang semakin memperkuat hubungan serta kerja sama militer.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.