WahanaNews.co | Jepang memperingati hampir 20.000 korban jiwa akibat gempa bumi
dan tsunami dahsyat yang tepat satu dekade lalu melanda dan menghancurkan kota-kota sekaligus memicu kebocoran nuklir di Fukushima.
Gempa dan tsunami yang berdampak pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Fukushima, 10 tahun lalu, itu merupakan bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl.
Baca Juga:
Gempa M 7,6 Guncang Wilyah Sulut: Peringatan Tsunami Hingga Radius 1000 Km
Gelombang besar yang dipicu oleh gempa
berkekuatan 9,0 skala Richter (SR) --salah satu yang terkuat dalam catatan
sejarah-- menghantam pantai timur laut, melumpuhkan pembangkit listrik
Fukushima Dai-ichi, dan memaksa lebih dari 160.000
penduduk mengungsi saat radiasi nuklir mengotori udara.
Pemerintah Jepang telah menghabiskan
sekitar 300 miliar dolar AS (Rp 4,3 kuadriliun) untuk membangun
kembali wilayah yang dilanda tsunami itu, tetapi daerah di sekitar pembangkit
listrik Fukushima tetap dinyatakan sebagai tempat terlarang.
Hal itu karena kekhawatiran tentang
tingkat radiasi tetap ada, dan banyak juga warga yang
pergi telah memutuskan menetap di tempat lain.
Baca Juga:
M 7,6 Guncang Laut Sulut, BMKG Peringatkan Gelombang Tsunami hingga 1.000 Km
Disebutkan, penonaktifan PLTN yang lumpuh itu akan
memakan waktu puluhan tahun dan menelan biaya miliaran dolar.
Bencana tersebut juga membuat para
penyintas di Tohoku berjuang untuk mengatasi kesedihan karena kehilangan
keluarga dan seluruh komunitasnya akibat tersapu gelombang menakutkan tsunami yang dalam beberapa jam pada sore hari di tanggal 11 Maret 2011 itu meluluhlantakkan segalanya.
Sekitar 50 kilometer ke selatan dari PLTN Fukushima, di kota pesisir Iwaki yang berpasir, yang telah menjadi pusat bagi para pekerja penonaktifan nuklir, seorang pemilik restoran bernama Atsushi Niizuma berdoa kepada ibunya
yang tewas dalam tsunami.
"Saya ingin memberi tahu ibu saya
bahwa anak-anak saya, yang semuanya dekat dengannya, baik-baik saja. Saya
datang ke sini untuk berterima kasih kepadanya bahwa keluarga kami hidup dengan
aman," kata Niizuma, 47 tahun.
Sebelum berangkat kerja, Niizuma
dengan tenang berdoa di sebuah monumen batu di kuil kecil dengan ukiran nama
ibunya, Mitsuko, dan 65 orang lainnya yang meninggal dalam gempa tersebut.
Pada hari gempa bumi yang terjadi 10 tahun lalu itu, Mitsuko sedang menjaga anak-anak
Niizuma.
Anak-anak itu
bergegas masuk ke dalam mobil. Sementara Mitsuko tersapu ombak saat dia kembali
ke rumah untuk mengambil barang-barang miliknya.
Butuh waktu sebulan untuk menemukan
jenazah Mitsuko.
Mengenang para korban, Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri Yoshihide Suga dijadwalkan
untuk memberikan penghormatan kepada para korban tewas pada upacara peringatan
bencana gempa dan tsunami tersebut di Tokyo, sementara beberapa acara
peringatan lainnya direncanakan diadakan di timur laut Jepang, yang terkena
dampak gempa paling parah.
Jepang kembali memperdebatkan
penggunaan energi nuklir dalam bauran energinya karena negara miskin sumber
daya itu bertujuan untuk mencapai netralitas karbon bersih pada 2050 untuk
melawan pemanasan global.
Apalagi, survei yang dilakukan televisi
publik NHK menunjukkan bahwa 85
persen warga khawatir tentang kemungkinan terjadinya kembali kecelakaan PLTN.
Demonstrasi massa menentang penggunaan
energi nuklir yang terlihat setelah bencana 11 Maret 2011 itu memang telah memudar, tetapi ketidakpercayaan masyarakat tetap ada.
Sejumlah aktivis anti-nuklir berencana melakukan demonstrasi di depan operator
pembangkit listrik Tokyo Electric Power
pada Kamis (11/3/2021) malam waktu setempat.
Hanya sembilan dari 33 reaktor nuklir
komersial Jepang yang tersisa telah disetujui untuk mulai digunakan kembali di
bawah standar keselamatan pasca-Fukushima dan hanya empat yang beroperasi,
dibandingkan dengan 54 reaktor yang beroperasi saat sebelum bencana.
Energi nuklir hanya memasok 6 persen
dari seluruh kebutuhan energi Jepang pada paruh pertama tahun 2020 dibandingkan
dengan 23,1 persen penggunaan sumber energi terbarukan, dan hal itu berarti
hampir 70 persen pemakaian bahan bakar fosil.
Persentase penggunaan energi
terbarukan Jepang itu jauh di belakang penggunaan sumber energi terbarukan
Jerman yang mencapai 46,3 persen. [dhn]