WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pejabat World Trade Organization memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu krisis pupuk global.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak serius terhadap ketahanan pangan dunia, terutama jika gangguan distribusi berlangsung dalam waktu lama.
Baca Juga:
Pemerintah Salurkan BSPS 2026, 19 Rumah di Humbang Hasundutan Siap Diperbaiki
Ancaman ini muncul seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur distribusi utama pupuk internasional.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, yang dilaporkan hampir ditutup oleh Iran.
Selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui berbagai komoditas penting seperti minyak, bahan bakar, dan pupuk.
Baca Juga:
Program SUGT 2026 Resmi Dibuka, Pemerintah Perkuat Ekosistem Pendidikan Menuju Indonesia Emas
Sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia diketahui melewati jalur tersebut, sehingga potensi gangguan akan memberikan dampak signifikan terhadap pasokan global.
Wakil Direktur Jenderal WTO, Jean-Marie Paugam, menyampaikan bahwa kekurangan pupuk dapat memicu efek berantai yang serius.
Menurutnya, tidak hanya hasil panen yang berpotensi menurun, tetapi juga harga pangan yang kemungkinan besar akan mengalami kenaikan.
Gangguan pasokan pupuk ini dinilai sebagai ancaman ganda, yaitu kelangkaan pasokan sekaligus lonjakan harga di pasar global.
Kawasan Teluk selama ini dikenal sebagai salah satu produsen utama pupuk dunia karena ketersediaan gas alam yang melimpah sebagai bahan baku.
Namun, konflik yang terjadi telah menghambat produksi dan memaksa sejumlah fasilitas pupuk menghentikan operasionalnya.
Situasi ini semakin memperburuk kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan pupuk dalam jangka pendek maupun menengah.
Sejumlah negara eksportir pangan seperti India, Thailand, dan Brasil sangat bergantung pada pasokan urea dari kawasan tersebut.
Ketergantungan ini membuat negara-negara tersebut menghadapi risiko besar jika distribusi pupuk terganggu.
Meski saat ini belum terjadi kelangkaan pupuk secara global, WTO mengingatkan bahwa dampaknya kemungkinan baru akan terasa pada musim tanam berikutnya.
Hal ini berpotensi memengaruhi produksi pangan untuk panen tahun depan.
Jean-Marie Paugam menegaskan bahwa apabila Selat Hormuz benar-benar diblokir selama tiga bulan, dampaknya terhadap rantai pasok global akan sangat signifikan.
Negara-negara pengimpor pangan, khususnya di kawasan Afrika Barat dan Afrika Utara, diperkirakan menjadi pihak yang paling rentan terhadap krisis ini.
Selain itu, praktik penimbunan pasokan oleh sejumlah negara juga dikhawatirkan dapat memperparah kondisi pasar global.
Fenomena serupa pernah terjadi saat gangguan perdagangan internasional pada masa pandemi COVID-19.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa gangguan rantai pasok dapat berdampak luas terhadap stabilitas pangan dunia.
WTO pun mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menghambat upaya global dalam menghapus kelaparan pada tahun 2030.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]