Dunia olahraga juga terpaksa merombak regulasi guna melindungi para atlet. Turnamen bisbol SMA tingkat nasional Koshien yang sangat populer di bulan Agustus, kini harus membagi jadwal pertandingan menjadi sesi pagi dan malam hari guna menekan risiko tersengat panas bagi para pemain maupun penonton di stadion.
Di sisi lain, iklim kerja di perkantoran turut mengalami penyesuaian drastis. Para pekerja kantoran kini diimbau untuk mengenakan celana pendek ke kantor pada hari-hari yang panas.
Baca Juga:
Jepang Ciptakan "Kulkas Manusia", Cukup 5 Menit Tubuh Langsung Dingin
Hal tersebut kini menjadi bagian dari pelonggaran budaya korporat dalam kampanye Cool Biz untuk menghemat konsumsi listrik AC. Gubernur Tokyo Yuriko Koike bahkan merekomendasikan penggunaan kaos polo, kaos oblong, hingga sepatu kets untuk pakaian kerja harian.
"Suhu rata-rata musim panas di Jepang telah melonjak sekitar 1,3 derajat Celsius selama 100 tahun terakhir, di mana musim panas tahun 2025 berada 2,4 derajat Celsius di atas rata-rata tiga dekade sebelumnya," terang JMA mengenai tren pemanasan global di wilayahnya.
Studi dari National Institute for Environmental Studies (NIES) bersama Universitas Waseda Tokyo memperingatkan bahwa tanpa pemotongan emisi gas rumah kaca secara drastis, kegiatan olahraga sekolah di luar ruangan diproyeksikan bakal sama sekali tidak dapat dimainkan pada dekade 2060-an. Paparan panas tahun itu akan sangat membahayakan nyawa.
Baca Juga:
Dinkes Jabar Peringatkan Ancaman Diare hingga Heatstroke Saat Kemarau Ekstrem
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.