WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tangis seorang ayah di Hebron mengguncang perhatian dunia setelah bayi laki-lakinya yang baru berusia tujuh bulan tewas ditembak saat berada dalam mobil keluarga yang disebut telah berhenti mengikuti perintah tentara Israel.
Korban bernama Sam Fahd Abu Haikal mengalami luka kritis setelah tembakan mengenai kendaraan yang ditumpanginya di kawasan Tel Rumeida, Hebron, Tepi Barat, pada Jumat (5/6/2026).
Baca Juga:
Jangan Tergiur! OJK Sebut Nonton Drama China hingga Klik Iklan Jadi Modus Penipuan Baru
Meski sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, nyawa bayi tersebut tidak berhasil diselamatkan.
Insiden itu segera memicu kecaman internasional dan kembali menyoroti keselamatan warga sipil Palestina di wilayah pendudukan.
Militer Israel mengakui pasukannya melepaskan tembakan ke arah kendaraan tersebut.
Baca Juga:
Data Terbaru BPS Bongkar Fakta: Dari 100 Orang Indonesia, Hanya 37 yang Rajin Berolahraga
Namun militer menyatakan tindakan itu dilakukan karena tentara di lokasi mengira kendaraan bergerak menuju posisi mereka.
Hasil penyelidikan awal militer kemudian menemukan bahwa korban yang terkena tembakan merupakan warga sipil yang tidak terlibat aktivitas apa pun.
Dalam wawancara dengan surat kabar Haaretz, ayah korban, Fahd Abu Haikal, menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi di depan matanya.
Menurut dia, keluarganya sedang melintas di Hebron ketika tentara Israel memberikan isyarat agar kendaraan dihentikan.
Di dalam mobil saat itu terdapat dirinya, sang istri, anak mereka yang berusia 11 tahun, ibunya, dan bayi Sam.
"Tentara itu memberi isyarat agar saya berhenti. Saya menghentikan mobil sepenuhnya dan mengangkat tangan saya dari kemudi. Segera setelah itu, mereka melepaskan tembakan ke arah kendaraan," ujarnya kepada Haaretz.
Abu Haikal mengatakan sebuah peluru terlebih dahulu menembus tangannya sebelum mengenai Sam yang berada dalam gendongan ibunya di kursi belakang.
Ia juga menegaskan kondisi saat kejadian masih terang sehingga tentara yang berada di lokasi dapat melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam kendaraan.
Militer Israel melalui Israel Defense Forces (IDF) menyampaikan versi berbeda mengenai insiden tersebut.
Menurut IDF, salah satu tentara melepaskan satu tembakan setelah mengira kendaraan tersebut sedang bergerak menuju arah pasukan.
"Sebagai akibatnya, tiga warga Palestina terluka dan dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis," kata IDF sebagaimana dilansir The Guardian.
Pihak militer menyatakan insiden tersebut masih dalam proses peninjauan internal.
IDF juga menyampaikan belasungkawa atas korban yang berasal dari kalangan warga sipil yang tidak terlibat.
Namun Abu Haikal membantah keras penjelasan tersebut.
"Tentara itu berjarak sekitar 10 meter dari saya. Dia melihat saya, dia melihat istri dan anak-anak saya," katanya.
Menurutnya, tidak ada alasan bagi tentara untuk menganggap mobil keluarganya sebagai ancaman.
Ia menilai seluruh anggota keluarganya terlihat jelas dari luar kendaraan karena jendela mobil tidak menggunakan kaca gelap.
"Jendela-jendela itu tidak berwarna gelap, saat itu siang bolong dan semuanya terlihat jelas. Anda tidak bisa mengatakan dia tidak melihat bahwa itu adalah sebuah keluarga."
Abu Haikal mengatakan dirinya mematuhi seluruh instruksi yang diberikan tentara sebelum penembakan terjadi.
Ia menyebut kendaraan telah berhenti total ketika peluru dilepaskan ke arah mobil.
"Saya berhenti seperti yang diperintahkan, lalu mereka langsung menembak mobil itu," ujarnya.
Menurut dia, lokasi tersebut bahkan tidak memiliki pos pemeriksaan permanen yang jelas.
"Tidak ada pos pemeriksaan yang jelas, hanya tentara yang berdiri di jalan. Saya berhenti ketika diminta, dan kemudian penembakan dimulai."
Saat pemakaman berlangsung pada Sabtu (6/6/2026), Abu Haikal kembali menyampaikan kesaksiannya kepada media.
Ia mengatakan tentara yang melepaskan tembakan langsung meninggalkan lokasi setelah insiden terjadi.
Menurut dia, mobil yang ditumpangi keluarganya sama sekali tidak bergerak saat ditembak.
Abu Haikal juga mendesak dilakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kasus tersebut.
Ia meminta tentara yang melepaskan tembakan dimintai pertanggungjawaban atas kematian putranya.
Kepada The Associated Press, Abu Haikal mengungkapkan kondisi istrinya masih kritis akibat serpihan peluru yang bersarang dekat jantung.
Keluarga juga menyebut ibu Sam baru diberi tahu mengenai kematian putranya sesaat sebelum prosesi salat jenazah berlangsung.
Dalam prosesi pemakaman, jenazah Sam dibungkus menggunakan bendera Palestina.
Sang ayah terlihat menggendong tubuh putranya sepanjang prosesi sebelum jenazah diletakkan di depan para pelayat untuk disalatkan.
Konsulat Inggris di Yerusalem turut menyampaikan reaksi atas insiden tersebut.
Melalui unggahan di media sosial X, konsulat menyatakan terkejut dan berduka atas kematian bayi Palestina itu.
Konsulat juga menyerukan adanya investigasi terbuka serta pertanggungjawaban yang jelas atas insiden tersebut.
Kasus kematian Sam mengingatkan publik pada insiden serupa yang terjadi di Tamoun, wilayah Lembah Yordan bagian utara, pada 15 Maret lalu.
Dalam peristiwa itu, tentara Israel menembaki kendaraan keluarga Palestina yang melintas dan menewaskan empat anggota keluarga.
Korban diidentifikasi sebagai Ali Bani Odeh (38), istrinya Waad Bani Odeh (36), serta dua anak mereka yaitu Othman (6) dan Mohammad (5).
Kelompok hak asasi manusia Israel, B'Tselem, menyebut dua anak lainnya berhasil dikeluarkan dari kendaraan dalam keadaan terluka ringan akibat serpihan peluru.
Kedua anak tersebut diketahui bernama Khaled (11) dan Mustafa (8).
Menurut B'Tselem, Khaled juga mengalami interogasi keras di lokasi kejadian.
Kelompok tersebut menuduh militer Israel sempat menghalangi ambulans untuk mencapai lokasi sebelum akhirnya memberikan akses setelah terjadi penundaan.
B'Tselem juga menyebut kendaraan keluarga tersebut kemudian disita meskipun dipenuhi bekas lubang tembakan.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak perang berlangsung.
Dari jumlah tersebut, sedikitnya 240 korban merupakan anak-anak.
PBB juga mencatat sebanyak 49 orang telah terbunuh di wilayah tersebut sepanjang tahun 2026.
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din, menilai kasus-kasus yang melibatkan dugaan pelanggaran tentara terhadap warga Palestina jarang berujung pada hukuman.
Berdasarkan data Yesh Din, dari 2.427 pengaduan dugaan pelanggaran yang diajukan selama periode 2016 hingga 2024, kurang dari satu persen yang berakhir pada dakwaan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]