“Ranjau-ranjau itu melukai lima prajurit kami hingga kehilangan kaki. Situasi ini sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.
Militer Thailand mengklaim telah menemukan lebih dari selusin ranjau antipersonel jenis PMN-2 di wilayah mereka dan bahkan menunjukkannya kepada jurnalis asing sebagai bukti.
Baca Juga:
Thailand-Kamboja Bentrok, Dua Pos Perbatasan Ditutup Sementara
Kondisi tersebut menambah rasa takut warga sipil di desa perbatasan yang hingga kini masih enggan kembali ke rumah karena trauma dan ancaman keamanan.
Pemerintah Thailand berencana membawa masalah ini ke forum internasional di Jenewa untuk menekan Kamboja.
Padahal, kedua negara sama-sama telah meratifikasi Konvensi Ottawa 1999 yang secara tegas melarang penggunaan ranjau darat antipersonel.
Baca Juga:
India Dilanda Tragedi, 14 Tewas dalam Kebakaran di Hotel Rituraj Kolkata
Sementara itu, Phnom Penh membantah keras tuduhan tersebut.
Menurut pemerintah Kamboja, pihaknya tidak pernah menanam ranjau baru, dan bila ada tentara Thailand yang terluka, hal itu terjadi karena mereka memasuki wilayah Kamboja tanpa izin.
Sejumlah pengamat menilai persoalan ranjau akan menjadi penghalang besar bagi proses perdamaian kedua negara.