WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian dunia United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur dalam dua insiden berbeda di wilayah Lebanon selatan.
Informasi ini dihimpun dari sejumlah sumber internasional, termasuk UN News, BBC, dan Al Jazeera.
Kedua peristiwa tragis tersebut terjadi dalam rentang waktu kurang dari 24 jam dan berlangsung di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara pasukan Israel dan kelompok Hezbollah.
Situasi keamanan di kawasan tersebut memang dilaporkan semakin tidak stabil dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga:
Hadiri Rapat Paripurna DPRD Karo,Bupati Karo Sampaikan Nota Pengantar LKPH Tahun 2025
Insiden pertama terjadi pada Minggu malam, 28 Maret 2027, ketika sebuah proyektil menghantam posisi pasukan UNIFIL di sekitar Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.
Ledakan tersebut menyebabkan satu prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia meninggal dunia di lokasi kejadian.
Sementara itu, satu personel lainnya mengalami luka kritis dan segera mendapatkan penanganan medis darurat.
Pihak UNIFIL menyampaikan bahwa asal proyektil tersebut belum dapat dipastikan dan investigasi langsung dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.
Kementerian Luar Negeri Indonesia kemudian mengonfirmasi bahwa korban meninggal merupakan prajurit TNI yang terkena tembakan artileri tidak langsung.
Selain korban jiwa, tiga personel lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Kondisi ini semakin mempertegas tingginya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian di wilayah konflik aktif.
Baca Juga:
Wujudkan Ketahanan Pangan, Rutan Sidikalang Panen Raya Kubis Tahun 2026
Sehari setelah kejadian pertama, insiden kedua kembali terjadi pada Senin, 30 Maret 2026.
Sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat wilayah Bani Hayyan, yang juga berada di Lebanon selatan.
Ledakan tersebut menghancurkan kendaraan yang mengangkut personel penjaga perdamaian.
Akibatnya, dua prajurit TNI dilaporkan meninggal dunia di tempat, sementara dua lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Salah satu korban yang mengalami luka serius segera dievakuasi ke Beirut untuk mendapatkan perawatan intensif di fasilitas medis yang lebih lengkap.
Proses evakuasi dilakukan dengan pengamanan ketat mengingat situasi di lapangan masih sangat rawan.
UNIFIL menyebutkan bahwa sumber ledakan kedua juga masih belum diketahui secara pasti.
Penyelidikan lanjutan tengah dilakukan untuk memastikan apakah insiden tersebut berkaitan dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Organisasi tersebut menegaskan bahwa kejadian ini merupakan insiden fatal kedua dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Hal ini menjadi perhatian serius komunitas internasional terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk keras kedua serangan tersebut dan menegaskan bahwa personel penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target dalam konflik bersenjata.
PBB juga menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat konflik memiliki kewajiban untuk mematuhi hukum internasional.
Pejabat PBB turut menyampaikan bahwa pasukan UNIFIL akan tetap menjalankan mandat Dewan Keamanan meskipun menghadapi situasi yang sangat berbahaya di lapangan.
Komitmen ini menunjukkan peran penting misi perdamaian dalam menjaga stabilitas kawasan.
Lebih lanjut, PBB menekankan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Tindakan tersebut bahkan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]