WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah kembali mengemuka setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut belum melihat urgensi untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran, meski tekanan dari Israel terus menguat.
Sikap tersebut berbeda dengan pandangan Israel yang mendorong opsi militer, sebagaimana dilaporkan Axios dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui dinamika pembahasan internal pemerintahan.
Baca Juga:
Trump Ngamuk Lagi: Ancam Tarif Impor 100 Persen Jika Kanada Akur dengan China
Dalam laporan itu disebutkan bahwa pejabat militer senior Israel, termasuk Kepala Staf Umum Eyal Zamir, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Washington untuk memberikan pengarahan situasi kawasan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine.
“Dapat dikatakan dengan aman bahwa tidak ada hasil dari pertemuan itu yang mengubah pandangan dia maupun presiden terkait serangan terhadap Iran,” kata seorang pejabat AS.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa dorongan utama justru datang dari pihak Israel, sementara Presiden AS disebut belum berada pada tahap mempertimbangkan opsi serangan.
Baca Juga:
Trump Cabut Ancaman Tarif ke Eropa, Tegaskan Tak Gunakan Militer untuk Greenland
“Sebenarnya Israel yang menginginkan serangan. Presiden sama sekali belum sampai ke titik itu,” lanjut pejabat AS tersebut.
Pejabat senior lain di lingkungan Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump secara pribadi tidak berhasrat membuka babak konflik baru di kawasan.
“Dia benar-benar tidak ingin melakukannya,” ujar pejabat senior itu.
Sejumlah penasihat dekat Trump juga menyampaikan pandangan serupa dengan menilai bahwa peluncuran operasi militer saat ini justru berpotensi menjadi kesalahan strategis.
Salah satu penasihat Trump menyebutkan bahwa cukup banyak tokoh di lingkaran dalam presiden bersikap skeptis terhadap gagasan serangan ke Iran.
Penasihat lain memperingatkan bahwa tindakan militer hanya akan merusak kebijakan regional dan internasional Amerika Serikat yang selama ini dibangun dengan susah payah.
Di sisi lain, ketika ditanya mengenai peluang perundingan antara Washington dan Teheran, para pejabat AS menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei belum siap menerima persyaratan AS dalam kesepakatan nuklir.
Meski demikian, Trump disebut tetap berupaya mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi sebagai opsi utama.
Para pejabat AS juga membantah spekulasi bahwa Trump mengirim utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebagai kedok bagi serangan mendadak.
Sebelumnya, Axios melaporkan bahwa Witkoff dijadwalkan bertemu Araghchi pada Jumat pekan lalu, untuk membahas prospek kesepakatan nuklir antara kedua negara.
Trump sendiri pada Januari lalu menyatakan bahwa sebuah “armada besar” tengah menuju ke kawasan Iran sembari menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi.
Ia menegaskan bahwa Washington menginginkan kesepakatan yang “adil dan seimbang” yang mencakup pengabaian total terhadap senjata nuklir.
Presiden AS itu juga melontarkan peringatan keras bahwa jika tidak tercapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran, maka setiap serangan AS di masa depan akan “jauh lebih buruk” dibandingkan operasi sebelumnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]