WAHANANEWS.CO, Jakarta - Mundurnya Amerika Serikat dari puluhan lembaga global memang membuka celah besar dalam tata kelola dunia, namun China diperkirakan tidak akan tergesa-gesa meloncat ke kursi kepemimpinan yang ditinggalkan Washington.
Para pakar menilai Beijing justru akan melangkah dengan perhitungan matang, memilih lembaga-lembaga yang memungkinkan pengaruh dibangun secara bertahap, sejalan dengan kepentingan domestik, serta memiliki risiko politik dan finansial yang masih bisa dikendalikan.
Baca Juga:
Trump Serukan Warga Iran Terus Berdemo, Klaim Bantuan Sedang Menuju Lokasi
Dalam satu tahun ke depan, China diperkirakan akan menjauhi peran yang sarat risiko politik atau menuntut komitmen besar, terutama di tengah tekanan ekonomi domestik dan persiapan menuju Kongres Partai Komunis ke-21 pada 2027.
Pendekatan hati-hati ini mencerminkan kalkulasi biaya dan risiko Beijing, yang enggan mengambil posisi kepemimpinan global yang dapat mengundang sorotan tajam, kewajiban mengikat, atau ekspektasi berlebihan dari komunitas internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (7/1/2025) menandatangani proklamasi yang menarik AS keluar dari 35 lembaga non-PBB dan 31 entitas PBB dengan alasan lembaga-lembaga tersebut mendorong kebijakan iklim radikal, tata kelola global, dan agenda ideologis yang dinilai bertentangan dengan kedaulatan serta kekuatan ekonomi AS.
Baca Juga:
Klaim Tak Butuh Hukum Internasional, Trump Tegaskan Siap Pakai Kekuatan demi Kepentingan AS
Lembaga yang ditinggalkan Washington mencakup Forum Pemberantasan Terorisme Global, Forum Energi Internasional, Organisasi Kesehatan Dunia, Dana Pembangunan Perdamaian PBB, hingga Pusat Perdagangan Internasional PBB.
“Mundurnya AS membuat ruang gerak China lebih leluasa di lembaga-lembaga pembangunan dan penguatan kapasitas seperti UN DESA, di mana penetapan agenda, pelatihan, dan bantuan teknis membentuk arah kebijakan negara-negara Global South,” kata Jonathan Ping, lektor kepala Bond University, Australia.
Platform-platform tersebut dinilai selaras dengan Inisiatif Pembangunan Global China karena memperkuat narasi kerja sama Selatan–Selatan sekaligus memperkenalkan model pembangunan ala Beijing ke negara berkembang.