WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melemparkan ancaman mengerikan terhadap Iran untuk segera mengambil tindakan atau menghadapi konsekuensi baru yang fatal. Mengutip laporan CNBC International, ancaman terbuka dari orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut disampaikan pada Minggu (17/05/2026).
Pernyataan keras ini disampaikan oleh pemimpin AS tersebut melalui platform media sosial miliknya di tengah mandeknya jalur diplomasi kedua negara.
Baca Juga:
Dihujani Teror Usai Bongkar Kasus Andrie Yunus, Ketua HMI Jabar Dapat Ancaman Mengerikan
"Bagi Iran, Jam Terus Berdetak, dan mereka sebaiknya bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!" kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Meskipun melontarkan gertakan yang sangat agresif, taipan properti tersebut tidak menjabarkan secara rinci mengenai langkah militer apa yang akan diambilnya. Trump tidak merinci apa sebenarnya konsekuensi yang akan terjadi, maupun apa yang dia harapkan untuk dilakukan Iran demi menghindari hal tersebut pada hari Minggu.
Ketegangan antara Washington dan Teheran sendiri memang terus berada di titik nadir sejak perang meletus beberapa bulan lalu. AS dan Iran berada dalam posisi buntu dalam negosiasi untuk mengakhiri perang sejak gencatan senjata yang rapuh dicapai pada awal April.
Baca Juga:
Permohonan Perlindungan Hukum 15 Anggota DPRD Penerima Suap Rampung Diproses LPSK
Hingga saat ini, AS terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran telah menutup Selat Hormuz sejak awal konflik.
Ancaman yang dilontarkan oleh suksesor Joe Biden ini menambah panjang daftar pernyataan kontroversialnya di media sosial yang menargetkan musuh bebuyutannya di Timur Tengah tersebut. Sebelum gencatan senjata April lalu, dia memperingatkan bahwa seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah bangkit kembali, kecuali Iran menyerah pada tuntutan AS.
Tidak hanya itu, miliarder AS tersebut sebelumnya juga sempat mengancam akan menyerang infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan di Iran, yang dinilai banyak pihak dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Dampak dari memanasnya konflik ini kian nyata dirasakan oleh masyarakat global, terutama akibat terganggunya jalur pasokan energi dunia. Penutupan selat tersebut, yang merupakan saluran kritis untuk minyak, telah menimbulkan kekacauan pada perekonomian, menyebabkan harga minyak melonjak secara global dan melonjaknya harga bensin di AS.
Bahkan berdasarkan data terbaru, harga rata-rata nasional untuk bensin di AS telah menyentuh angka US$ 4,51 (Rp 72 ribu) per galon pada hari Minggu, menurut laporan AAA.
Saat ini kedua belah pihak masih bertahan dengan ego masing-masing di meja perundingan tanpa ada yang mau mengalah. AS menuntut agar Iran membatalkan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz.
Sebaliknya, Iran menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat perang, diakhirinya blokade ekonomi, serta penghentian segera seluruh pertempuran, termasuk konflik yang terjadi di Lebanon.
[Redaktur: Alpredo Gultom]