"Pesan kepada musuh kita jelas: ketika mereka tahu masyarakat Taiwan siap, mereka harus berpikir sangat hati-hati apakah akan melancarkan perang yang sangat mahal terhadap Taiwan, perang yang mungkin tidak akan berhasil," ujarnya.
Selain ancaman militer, Taiwan juga menguji kesiapan menghadapi perang informasi. Dalam salah satu simulasi, siaran televisi lokal dibajak dan diganti propaganda Beijing, sementara informasi palsu disebarkan untuk memicu kepanikan masyarakat. Para pejabat kemudian diminta menggelar konferensi pers simulasi dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat.
Baca Juga:
Sembilan Jenderal Digulung Xi, Langkah Besar Pembersihan Militer Jelang Pertemuan Partai
Latihan tersebut turut mengadopsi pelajaran dari perang di Ukraina dan konflik di Timur Tengah. Pemerintah menguji ketahanan rumah sakit bawah tanah, keamanan jaringan pemerintah dari serangan peretas, hingga skenario ketika pusat tanggap darurat lumpuh akibat serangan drone sehingga seluruh operasi harus dipindahkan ke pusat komando cadangan.
Di tengah berlangsungnya latihan, ketegangan di Selat Taiwan kembali meningkat. Pada hari terakhir simulasi, Taiwan melaporkan China menggelar patroli kesiapan tempur gabungan di sekitar pulau itu dengan mengerahkan kapal perang dan sedikitnya 22 pesawat militer, termasuk pesawat pembom H-6 yang mampu membawa senjata nuklir.
Sementara itu, Beijing menuduh Presiden Taiwan Lai Ching-te sengaja meningkatkan ketegangan lintas selat dan memperingatkan langkah tersebut berisiko memicu konflik yang lebih besar.
Baca Juga:
Pembersihan Militer China Makin Brutal: Miao Hua Lengser, He Weidong Menghilang
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.