“Saat dokter mengatakan saya harus menjalani terapi seumur hidup, rasanya dunia runtuh, seolah semua harapan saya hilang. Apalagi, tidak semua obat yang saya butuhkan tersedia di Indonesia,” ujarnya.
Yusnita mengaku pernah merasa putus asa, namun perlahan berusaha bangkit kembali.
Baca Juga:
Kemenkes Catat ISPA, Hipertensi, dan Diare Dominasi Penyakit Pengungsi di Aceh Tamiang
Ia menyampaikan bahwa dukungan keluarga, lingkungan, dan komunitas pasien sangat membantunya menjalani terapi jangka panjang.
Semangat tersebut membuatnya tetap bertahan menghadapi tantangan besar dalam pengobatan.
Ia juga menyoroti masalah akses obat yang hingga kini masih menjadi hambatan utama bagi banyak pasien hipertensi paru.
Baca Juga:
Bekerja 24 Jam Tanpa Henti, Ginjal Terbantu oleh Makanan Alami Ini
Menurutnya, pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memperluas ketersediaan obat serta memastikan pemerataannya ke berbagai daerah.
“Saya berharap pasien bisa mendapatkan akses pengobatan lebih baik dan tidak merasa berjuang sendirian,” ujar Yusnita.
Ia menegaskan bahwa dukungan sistematis sangat diperlukan agar pasien dapat mempertahankan kualitas hidup dan tidak merasa terabaikan.