WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy menegaskan bahwa edukasi gizi merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju terwujudnya Generasi Emas 2045.
Menurutnya, persoalan gizi tidak dapat dipandang sebatas pemenuhan kebutuhan pangan, melainkan sebagai pilar strategis pembangunan manusia secara berkelanjutan.
Baca Juga:
10 Ribu Peserta Ikuti Gerak Jalan Santai HUT ke-80 PGRI dan HGN di Sumedang
Penegasan tersebut disampaikan Doddy saat membuka kegiatan Edukasi Gizi Serentak se-Indonesia yang digelar di Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66.
“Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026 ini PERSAGI mengangkat tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045". Mengingatkan kita bahwa gizi bukan sekadar urusan pangan, tetapi fondasi utama kualitas manusia Indonesia,” ujar Doddy.
Dalam kesempatan itu, Doddy mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan gizi yang kompleks.
Baca Juga:
Revolusi SDM Dimulai dari Kampus! Menteri HAM Teken MoU Besar di Bali
Permasalahan tersebut mencakup tingginya angka stunting, kekurangan gizi, hingga meningkatnya kasus gizi lebih yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi ini, menurutnya, menuntut pendekatan edukatif yang berkesinambungan sejak usia dini.
“Di tengah tantangan gizi yang masih kompleks mulai dari stunting, kekurangan gizi, hingga meningkatnya masalah gizi lebih. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi gizi menjadi semakin penting, khususnya di lingkungan sekolah,” katanya.
Edukasi Gizi Serentak yang diinisiasi PERSAGI melibatkan ribuan ahli gizi di seluruh Indonesia.
Program ini menyasar sekolah-sekolah dari berbagai daerah dengan pendekatan yang terstandar dan terkoordinasi guna memperluas jangkauan literasi gizi kepada peserta didik, tenaga pendidik, serta orang tua.
“Edukasi Gizi Serentak yang dilaksanakan hari ini melibatkan ribuan ahli gizi anggota PERSAGI. Edukasi ini menjangkau ribuan sekolah dan puluhan ribu siswa, guru, serta orang tua di seluruh Indonesia,” ujar Doddy.
Lebih lanjut, Doddy menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap berbagai program nasional di bidang kesehatan dan gizi, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menilai penguatan pemahaman tentang gizi seimbang sangat penting agar program tersebut dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini dilaksanakan secara terstandar, serentak, dan terkoordinasi lintas wilayah. Sekaligus mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penguatan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat,” ucapnya.
Selain itu, pemanfaatan pangan lokal turut menjadi fokus perhatian dalam pelaksanaan program edukasi gizi.
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan program gizi nasional sekaligus memberdayakan potensi pangan daerah.
“Penggunaan pangan lokal menjadi perhatian kita semua untuk mendukung program MBG tetap berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan tema HGN yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal," kata Doddy.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, PERSAGI juga mencatatkan Edukasi Gizi Serentak ini sebagai Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pencatatan tersebut bukan semata-mata dimaknai sebagai prestasi, melainkan sebagai simbol komitmen bersama dalam membangun kesadaran gizi secara nasional.
“Momentum pencatatan Rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kegiatan ini tidak kita maknai semata sebagai capaian prestasi. Melainkan sebagai simbol gerakan nasional sadar gizi,” ujarnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]