Selain itu, ketergantungan emosional terhadap AI juga dikhawatirkan dapat menghambat individu dalam mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor.
Hal ini terjadi karena pengguna merasa telah memperoleh dukungan emosional yang cukup dari teknologi, meski sifatnya terbatas.
Baca Juga:
Suka Nyinyir di Medsos Tanda Gangguan Jiwa? Begini Kata Psikolog, Yuk Simak!
Ia pun menyarankan agar AI hanya digunakan sebagai sarana refleksi sementara, bukan sebagai pengganti hubungan sosial maupun pendampingan profesional.
Menurutnya, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi sosial nyata tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental.
Kekhawatiran serupa turut disampaikan oleh konten kreator Tatash Pridasari.
Baca Juga:
Tak Suka Hidup di Usia Tua, Peraih Nobel Ekonomi Daniel Kahneman Meninggal dengan Caranya Sendiri
Ia menilai penggunaan AI secara tidak bijak berpotensi menimbulkan dampak sosial jangka panjang, termasuk pergeseran pola hubungan antarmanusia.
Tatash menekankan pentingnya pembekalan literasi digital dan emosional, terutama bagi generasi muda.
Ia menilai pemahaman mengenai batasan penggunaan AI perlu diperkuat sejak dini agar teknologi tidak disalahartikan sebagai pengganti hubungan manusia.